Separuh Dirimu

Kita terpisah jauh, dan hanya bisa diam menikmati ketakberdayaan. Sambil dengan kebodohan masing-masing, kita menanti sayap yang tak jua tumbuh. Lalu kita akan berkirim surat, tanpa pernah tahu nasibnya—sampai, nyasar, atau hilang. Kita tak pernah peduli. Karena sebenarnya kita hanya ingin menulis surat untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin merasakan gelombang kerinduan mahadahsyat yang kita pancarkan sendiri. Itu sudah cukup. Atau bahkan, bagi kita itu lebih dari cukup.

Separuh dirimu merintih di sini. Adakah di sana kau dengar?

Tidak?

‘Tak apa.

Kadang, kita tidak butuh jawaban. Hanya ingin bertanya. Kadang kita bukan ingin diobati. Hanya ingin berteriak kesakitan—sekuat-kuatnya.

telah dibukukan

.gambar diambil dari sini

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

7 thoughts on “Separuh Dirimu”

  1. udah, pangkas aja smua rasa itu, g usah pusing pusing, ngaji ngaji… setidaknya itu pelarian teraman hingga semuanya mengizinkan, baru deh sikat…

  2. Pingback: My Constelation

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s