Warna

“Aku suka melihat warna.”

“Kenapa?”

“Mereka tetap indah walau berbeda.”

“Bukankah lebih indah manusia?”

“Apanya?”

“Mereka berbeda, bukan hanya menampilkan keindahan, tapi juga mewujudkan keutuhan.”

“Kamu selalu bisa bermetafora”

“Kamu tahu kenapa?”

“Ya?”

“Karena kadang bahasa logika yang ada dan pernah tercipta di dunia ini tidak cukup untuk mewakili apa yang kita rasa.”

“Itu sih, cuma berlaku buat kamu yang suka mendramatisasi”

Kamu selalu bersikap seperti itu.

Bicara padaku seolah-olah aku Raja Gombal Cap Jempol yang suka membual. Padahal kamu yang paling tahu bahwa itulah aku yang sejati—yang selalu senang bicara tentang perumpamaan, sejarah, atau sekadar kutipan-kutipan para sastrawan. Kini kamu mulai ketularan, meski kamu tak pernah mau mengaku.

Kamu selalu bicara dan bersikap atas dasar realita, sementara aku terpaksa harus mengakui, bahwa aku percaya ada alam lain di dunia ini, tempat setiap jiwa tiba-tiba punya kecintaan pada metafora. Alam yang hanya bersedia dimasuki oleh orang-orang yang jatuh tanpa sengaja. Aku merasa sebagian diriku berada di alam itu, atau   bisa dibilang sebagian hidupku dihabiskan di sana. Kamu pasti tidak percaya.

Kita sepertinya memang dicipta untuk jadi berbeda. Jadi warna yang tidak sama.

‘Kita saling mengutuhkan’. Itu pembenaran paling indah dari semua perbedaan-perbedaan ini. Kaya-miskin, pendiam-cerewet, bumi-langit, api-air, gunung-lembah, mereka saling mengutuhkan. Tapi tidak berlaku pada baik dan buruk.

Kebaikan ada bukan untuk mengutuhkan keburukan. Begitu sebaliknya. Mereka justru hadir untuk saling meniadakan. Dan kamu tahu betul, kita tidak seperti itu.

Benarkah kita dicipta untuk saling mengutuhkan? Aku masih sedikit ragu.

Sepertinya hanya sekat antara hati kita yang bisa menjawabnya. Bila sekat itu jauh, mungkin jawabannya ‘tidak’. Bila sekat itu tipis, atau bahkan tidak ada, aku bisa yakin jawabannya ‘ya’.

Kamu kini diam. Seolah mempersilakan aku bicara lagi.

“Kamu tahu? Cinta, dia selalu hidup. Menjadi tema film-film, menjadi isi lirik-lirik lagu, mengisi bait-bait sajak, dan menjadi ungkapan paling dinantikan. Atau tidak diinginkan sama sekali. Ia hadir di dunia untuk sekedar ada, lalu dibiarkanlah manusia untuk memilikinya, merawat, dan menumbuhkan. Namun, sebagian manusia membencinya. Aku tidak habis pikir.”

“Bukan. Kamu bukan ‘tidak habis pikir’. Kamu justru belum mampu berpikir.”

Katamu sambil menggeleng kecil.

“Apa?”

“Aku tidak pernah mengerti konsep cinta yang ada di pikiran para penyair. Buatku, mereka adalah orang-orang gila. Cinta, rasanya tidak perlu kita maknai dengan kalimat-kalimat hiperbola. Ia sederhana. Awalnya ia ada sebagai rasa, lalu, bila kita berani, ia akan berkembang menjadi kata. Dan bagi mereka yang matang, ia akan terurai menjadi laku.”

“Jadi, buat kamu?”

“Memberi. Cinta adalah memberi.”

Nadamu mendadak serius.

“Apa?”

“Apapun. Selama itu tulus. Semuanya, kalau perlu.”

“Apapun?”

“Serendah-rendahnya kasta pemberian dalam konsep cinta adalah perhatian. Dan orang yang mencintai, tatapannya meneduhkan orang yang dicintainya.”

“Kamu pernah mencintai?”

Kamu lantas diam. Menatapku tepat di bola mata. Teduh, mendamaikan.

Kini aku yakin, jawabannya ‘ya’. Sekat itu tidak ada—entah sejak kapan.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

13 thoughts on “Warna”

  1. karena saya awam, jadi ini GOMBAL dan GALAU. hahaha 😀

    tapi kan, orang yg jago gombal itu cerdas, soalnya dia pandai nyusun kata.
    tapi kan, galau itu inspiratif. Soalnya memotivasi buat nulis. hahaha..
    jadi silakan mas nya menilai karya mas sendiri 🙂

    1. Terus terang populernya kata ‘galau’ belakangan ini membuat ‘jatuh cinta’ punya konotasi negatif. Itu salah satu misi saya, mentransformasikan apa yang sering disebut orang ‘galau’—yang terkesan negatif, menjadi sesuatu yang positif, yaitu menjadikannya inspirasi untuk menulis.

  2. asik daaah, hahaha 😀
    jadi galau juga bisa bikin produktif ya mas?
    hahaaa..great!
    cuma itu susah menurut saya.. karena interpretasi org terhadap makna suatu karya sastra beda2, tanggepannya beda2, niatnya mau mengubah paradigma, eeeeh malah tambah bikin galau.
    nah loh, dilema kan yah, hahahaa 😀

    1. Bener juga sih… Memang menjadi hak si pembaca, dia mau menginterpretasikan seperti apa. Meski saya khawatir kalau diinterpretasikan negatif, saya kecipratan dosanya. haha…
      Himbauan buat anda-anda yang makin galau setelah baca tulisan ini, jangan bawa-bawa saya nanti kalau diintrogasi malaikat!

  3. hahaha 😀 kejauhan menurut saya kalau sampe dibawa2 ke dosa dan malaikat. Anda memang terkadang hiperbola ya bung.. hehe 😀
    tergantung dari orang itu galaunya seperti apa, kalau dia galau trus jadi deket sama Tuhan, ya bagus donk 🙂
    hehehe.. kalau hemat saya sih, sederhana. Menulislah, seluasnya. Tanpa border. Tanpa misi, selain menerjemahkan isi hati. Tapi menurut saya mas nya udah sangat bagus memvisualisasikan bentuk cinta 🙂

    1. Kok kejauhan? Bukannya Tuhan bahkan lebih dekat dari nadi?… 😛
      Memang ‘bentuk cinta’ yang saya visualisasikan menurut Mbaknya seperti apa? Jangan-jangan kita beda persepsi… Nah lo…
      Dan sebenernya saya punya misi: menguasai dunia *Mr Black mode

  4. anda koleris banget ya mas. sampe-sampe pengen menguasai dunia. hahaha .. 😀
    kalo kata mario teguh, “apa yang anda sampaikan atau anda lakukan dari hatimu, akan sampai di hati sesamamu”
    terlepas dari kita beda persepsi tentang bentuk cinta, yaaa menurut sama itu otonom kita masing2, mengharfiahkan setiap untaian kata itu seperti apa. Ya toh? hahaha..
    dalam hal ini, saya cuma konsumen yang menerima produk kata2 anda bung. Yaa walaupun mungkin tujuan awal produksi anda tidak sama dengan yang saya tangkap. mungkin begitu analoginya. 🙂

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s