Jarak, Jeda, dan Waktu

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tidak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang. Pasaran. Bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi, dan selama itu, silahkan kamu menunggu.

Kamu selalu bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Mengerti bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya tidak ingin menyakiti. Kata yang satu tidak pernah membenci kata yang lain, mereka hanya ingin ada jeda, supaya mereka punya makna. Pucuk pohon tak pernah membenci akar, mereka hanya ingin bersinergi untuk menjadi berdaya.

Jarak  dicipta, tiada lain agar ia punya makna. Maka stop. Berhentilah di sana.

Adanya rasa bukan untuk diterka, jadi biarlah ia tetap indah sebagai sesuatu yang tidak disangka. Suka tidak suka.

~

Untuk kamu yang percaya bahwa jarak dicipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

14 thoughts on “Jarak, Jeda, dan Waktu”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s