Mengapa Belum Juga?

Pantai;

Ia telah mengucap janji setianya pada laut. Bahwa ia akan selalu menemani. Kapan pun. Dalam keadaan apa pun. Sedahsyat apa pun hembusan angin—atau bahkan badai—yang mengguncang, yang mengurai tenang jadi gelombang-gelombang yang sulit dikekang, ia akan selalu di sana. Menjadi sahabat paling sejati yang selalu mengerti. Dalam pasang maupun surut. Dalam jernih maupun keruh. Katanya pada laut: tak peduli kamu seberapa pekat, aku akan tetap dekat.

Panas;

Ia telah mengaku jatuh hati pada api. Mengagumi segala pesonanya, dan berikrar dalam hati, ia akan selalu menjadi ruh yang bersemayam dalam raganya. Menjadi rasa paling dikenal. Karena bersama api, ia tahu arus cintanya diberi kanal. Dalam momen destruksi sekalipun, ia selalu bahagia. Dan selalu mengucap harap dalam doa: semoga semuanya abadi. 

Dingin;

Ia sudah terlalu yakin salju adalah muara cintanya. Dan tak tahu lagi harus berkata apa.  Sampai kapan pun, barangkali ia tak akan merindukan salju, karena mereka selalu bersama. Bercengkerama dengan pucuk-pucuk daun, bertengger manis di ranting pohon, jatuh merintik di permukaan jalan, atau menjadi selimut bagi genting-genting rumah. Kisah mereka memang indah.

Kamu;

Mengapa kamu belum juga?

: untuk kamu yang selalu percaya bahwa semua cerita tentang keterpisahan ini hanyalah tipu daya waktu

jj2

 

 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

7 thoughts on “Mengapa Belum Juga?”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s