Remang

Di sini, di ruang tamu yang belakangan jadi ruang pribadimu ini, kamu bersembunyi. Menerka-nerka suara langkah kaki, kamu pasti takut kalau-kalau itu dia. Remang, terang, intensitas cahaya dalam ruangan ini, kamu sendiri yang mengendalikan. Kamu ubah-ubah sesuai suasana hatimu, yang nyatanya lebih sering remang.

Kamu takut. Karena itu kamu sembunyi. ‘Apa salahku?’, kamu selalu membatin seperti itu. Seperti orang yang dikepung sekawanan harimau yang sudah berminggu-minggu tak dapat mangsa. Kamu selalu mendramatisasi. Ruangan itu memang lebih sering kamu buat remang.

Kamu malu. Untuk memejamkan mata pun kamu hampir-hampir tidak sanggup—kamu terlalu malu pada gelap. Kamu juga malu pada matahari, yang setia mencintai bumi dengan jaraknya. Pada laut, yang setia mengikat janji dengan pantainya. Pada salju, yang tak pernah lepas berpeluk mesra dengan dinginnya. Kamu malu.

Kamu ingin berbaring telentang di hamparan pasir tanpa kena air. Kamu ingin mengapung bersama daun-daun waru yang dibawa mengalir sampai hilir. Kamu ingin ikut jatuh bersama rinai hujan yang menyerang bumi.

Kamu kini tertunduk. Kamu mau curhat. Pada siapa? Kamu sendiri tak tahu.

Dia pasti sudah lupakan kamu.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

5 thoughts on “Remang”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s