Aku, Buronan

15 Januari 2012, 03:20 pm

a, kapan libur?”

Sederhana. Pertanyaan itu terlalu sederhana. Dan hanya disampaikan melalui pesan singkat. Tanpa paksaan, tiada pula permohonan. Sebuah pertanyaan wajar seorang ibu pada anaknya.

Ya, itu sekedar pertanyaan biasa. Tapi pertanyaan ini disampaikan atas dasar kerinduan. Atas dasar tatapan yang telah lama tak saling menyapa. Atas dasar punggung tangan yang kering, yang rindu kecupan. Dan kalau kerinduan ini dikategorikan sebagai sebuah tragedi kriminalitas, akulah pelakunya.

Aku sekarang buronan.

29 Januari 2012, 08:55 am

a, rambutan satu dua mulai kuning

Beberapa hari kemudian sebuah pesan singkat dengan nama kontak yang sama muncul lagi di layar ponsel. Sebuah pernyataan yang disampaikan seolah tanpa pretensi. Tanpa persuasi tersurat apapun. Apalagi ancaman.

Aku menangkap isyarat itu.

Ada harapan dibalik pesan tersebut. Sederhana, tapi menjadi pelampiasan rasa atas rindu yang telah bertumpuk sejak lama. Pelampiasan rasa atas jumpa yang tak kunjung nyata. Pesan itu mengendung siratan. Siratan yang sama dengan siratan dalam pesan sebelumnya, hanya mungkin berbeda kadar.

Rambutan yang kaubilang sudah mulai menguning itu hanya alibi. Kau tahu betul, di tempatku sekarang ini banyak juga rambutan. Ia bukan barang asing di sini. Jadi tidaklah bijak kalau rambutan yang sudah mulai menguning itu jadi alasan kepulanganku.

Kau sebenarnya tidak sedang bicara tentang rambutan. Kau sedang bicara tentang kenangan. Tentang ‘dulu’, tentang saat-saat yang bisa kita habiskan bersama. Dan rambutan, hanyalah bagian kecil dari kebersamaan kita, ia hanya piguran.

Maafkan anakmu ini yang sampai hari ini belum juga hadir. Meski kau tak mungkin mengutukku jadi batu, aku tidak mau jadi Malin Kundang. Aku akan pulang. Segera. Karena “mencintaimu”, kata Sapardi Djoko Damono, “harus menjelma aku”.

maxresdefault

Untukmu yang kurindukan, aku akan segera pulang.
Mencipta temu, menyulap rindu jadi debu.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

2 thoughts on “Aku, Buronan”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s