Barangkali Semacam Surat Cinta

Raut itu… Senyum itu… Tatapan itu…

Rasa ini terlalu sulit didefinisikan. Atau mungkin memang dicipta tanpa definisi. Hanya bisa dirasa. Penaka embun yang menetes di tengah gurun, entah mengapa tawa itu begitu menyegarkan. Membangkitkan gelora jiwa untuk terus menjalani hidup dengan gairah.

Sesosok perempuan lugu yang penuh tanda tanya. Dia hidup dengan caranya, dia mencintai dengan caranya, seperti wanita-wanita lainnya. Tidak begitu pintar, tidak juga terlalu jelita. Biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkahnya, lagi-lagi biasa saja. Tapi entah mengapa ia begitu memesona, membuat relung hati terus bergetar. Aura ketulusannya memancar menembus serat-serat jiwa.

Dialah wanita yang telah melipatgandakan energiku. Dialah wanita yang dengan tingkah lugunya selalu menghiburku. Menjauhkanku dari rasa jenuh. Menghindarkanku dari rasa bosan. Selalu ada semangat yang terbentuk dalam lingkaran aku dan dia. Cinta ini konstruktif. Tidak ada pujian-pujian, hanya cerita yang kadang beriring canda. Tidak ada janji-janji, hanya pancaran semangat. Ya, dengan segala subjektifitas diri ini aku yakin betul: cinta ini konstruktif.

Dia kuncup bunga, dan aku ingin menjadi sinar matahari yang membuatnya mekar. Dia taman gersang, dan aku ingin menjadi hujan yang menghijaukannya. Terlalu hiperbolis untuk diibaratkan sebagai laut dengan pantai. Api dengan panas. Atau salju dengan dingin. Terlalu khayal untuk diibaratkan seperti raja dan ratu. Pangeran dan Tuan Putri. Atau Romeo dan Juliet. Cinta ini tidak serumit itu. Sederhana saja.

Allah telah menciptakan cinta dalam jiwa. Aku ingin merawat ciptaan Allah ini, dalam setiap doa-doaku.

Yang aku rasakan sederhana. Aku bahagia saat dia tersenyum. Aku merasa dewasa saat berada di dekatnya. Aku merasa bisa membuatnya bahagia. Kalaulah memang cinta ini tidak berujung di pelaminan, bantu aku melupakan cinta ini. Tapi kalaulah Engkau telah menakdirkan cinta ini berujud dalam ikatan yang Engkau ridai, tenggelamkan dia dalam lautan cintaku!

 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

25 thoughts on “Barangkali Semacam Surat Cinta”

  1. kalau di masa melupakan (atau mungkin bahasa gaholnya menetralisir kegalauan) itu kau baru bisa berkenalan dengan Dee ataupun Andrea melalui tulisan mereka, i wish someday kau bisa jadi Dee Dee dan Andrea Andrea yang lain. Tidak hanya di spanduk struktur organisasi di depan BKM, i think kelak fotomu juga bisa terpampang di halaman biografi sebuah buku yang menginspirasi 😀
    “Cinta Jiwa yang tidak konstruktif, musnahkanlah. Cinta Jiwa yang tidak berujung di pelaminan, lupakanlah.” Terimakasih pencerahannya. Izin ngutip-ngutip, Kak 😀

  2. lebih baik melupakan. Tapi, terkadang, mengenang kembali rasa itu bisa menjadi indah. Bukan sekarang, tapi beberapa tahun dari sekarang. Masa di mana kita lebih dewasa. Masa di mana kita memiliki persepsi yang berbeda tentang cinta. Surat cinta terpendam yang sangat indah. 🙂

  3. cinta dalam diam itu lebih baik, jika ingin mengambil hatinya maka mintalah kepada sang penggenggam hati yakni Allah, biarkan hatimu kokoh tanpa harus luluh dengan yang namanya “cinta”…karena janji Allah itu pasti…

    *so don’t worry….cukup engkau dan Allah saja yang tau

  4. karna cinta tak harus bicara…
    biar “sang diam” yang menyampaikannya…
    hingga kepak kasih sayang itu pun mengangkasa…
    jauh ke langit sana…
    menyapa malaikat-malaikat cahaya…
    yang terus membersamai langkah setiap kita…

    semua, akan indah pada masanya ^_^
    salam kenal…

  5. Pernah berada di posisi seperti ini mencoba menghindar agar interaksi berkurang karena sadar telah jatuh hati padanya, tetapi realitas mengharuskan untuk dilupakan. Karena ini cinta jiwa.

  6. Reblogged this on Mizwandi Zuandi and commented:
    Raut itu… Senyum itu… Tatapan itu…
    Rasa ini terlalu sulit didefinisikan. Atau mungkin rasa ini memang dicipta tanpa definisi. Hanya bisa dirasa. Penaka embun yang menetes di tengah gurun, entah mengapa tawa itu begitu menyegarkan. Membangkitkan gelora jiwa untuk terus menjalani hidup dengan gairah.

    Sesosok wanita innosence yang penuh tanda tanya. Penuh misteri keluguan. Dia hidup dengan caranya, dia mencintai dengan caranya, seperti wanita-wanita lainnya. Tidak begitu pintar, tidak juga begitu jelita. Biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkahnya, lagi-lagi biasa saja. Tapi entah mengapa ia begitu mempesona, membuat relung hati terus bergetar. Aura ketulusannya memancar menembus serat-serat jiwa.

    Dialah wanita yang telah melipatgandakan energiku. Dialah wanita yang dengan tingkah lugunya selalu menghiburku. Menjauhkanku dari rasa jenuh. Menghindarkanku dari rasa bosan. Selalu ada semangat yang terbentuk dalam lingkaran aku dan dia. Cinta ini konstruktif. Tidak ada pujian-pujian, hanya cerita yang kadang beriring canda. Tidak ada janji-janji, hanya pancaran semangat. Ya, dengan segala subjektifitas diri ini aku merasakan: Cinta ini konstruktif.

    Dia kuncup bunga, dan aku ingin menjadi sinar matahari yang membuatnya mekar. Dia taman gersang, dan aku ingin menjadi hujan yang menghijaukannya. Terlalu melankolis untuk diibaratkan sebagai laut dengan pantai. Api dengan panas. Atau salju dengan dingin. Terlalu khayal untuk diibaratkan seperti raja dan ratu. Pangeran dan Tuan Putri. Atau Romeo dan Juliet. Cinta ini tidak serumit itu. Sederhana saja.

    Allah telah menciptakan cinta jiwa. Aku ingin merawat ciptaan Allah ini, dalam setiap do’a-do’aku. Yang aku rasakan sederhana. Aku bahagia saat dia tersenyum. Aku merasa dewasa saat berada di dekatnya. Aku merasa bisa membuatnya bahagia. Kalaulah memang cinta ini tidak berujung di pelaminan, bantu aku melupakan cinta ini. Tapi kalaulah Engkau telah menakdirkan cinta ini berujud dalam ikatan yang Engkau ridho’i, tenggelamkan dia dalam lautan cintaku.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s