Kita, Pagi, dan Matahari

Sampaikan salamku pada awan yang tak semestinya mendung, atau daun yang terpaksa menguning. Terlalu lama kita hidup saling berpunggungan. Asumsi mengelus asumsi, tak pernah ada kesempatan untuk hati bicara arti. Kita terjebak dalam jurang kecemburuan, di bawah megahnya langit egoisme. Membiarkan logika bisu terus bicara, tanpa pernah bertegur sapa; ‘Hai, apa kabar? Masihkah kita bisa saling mengisi jiwa, atau sekedar menyumbang  doa?’. Jangan tanya aku jawabnya apa.

Tidak, kita tidak saling membenci. Kita hanya belum saling mengenal.

Selayaknya kita bisa bicara pagi, tanpa harus bertengkar di malam hari. Kita bisa bicara matahari, tanpa harus berebut bulan.

Karena pagi akan tetap ada tanpa adanya kita, dan matahari juga pasti hadir. Dan akan selalu hadir. Sampai langit bertemu bumi. Maka suatu saat nanti sebelum itu terjadi, izinkan aku jadi darah dalam nadimu, yang tak kau rasa, tapi diam-diam menghidupi.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s