Di Batas Sunyi

Aku sedari dulu selalu merasa cukup memandangmu dari sudut ini. Dari balik dinding hatiku yang kadang runtuh diterpa sapa, atau sekadar senyum. Menghayati sesosok bidadari dengan cara yang paling sulit dimengerti.

Kala kaumenatap, itulah kala kuharus terpejam—aku tak sanggup. Kala kau bersuara adalah kala kuharus menutup telinga, atau menjauh, atau bersembunyi di balik dinding paling kedap suara yang bisa kutemui. Engkau adalah sejumput keindahan dari milyaran anugrah tuhan, representasi keteduhan abadi tak terperi.

Aku ingin bertengger di batas kesunyian. Menikmati kepecundangan ini sendirian. Biar tak ada yang tahu.

Jiwaku berhamburan tak teratur. Aku makin melantur. Hanya ingin tidur, dan bermimpi, kalau saja aku tiba-tiba mati lalu masuk surga. Melewati semuanya tanpa harus merasa pedih.

Adakah kamu di sana merasakannya? Getaran-getaran yang berbicara: ‘aku ingin ada kamu di sini. Bercerita, bercanda, atau sekadar saling menatap.’

Aku selalu memandangmu teduh, tanpa tahu kaupandang apa aku. Tanpa tahu hitam atau putihkah aku di matamu.

Dan kini semua berujung pada perjanjian suci antara aku dan huruf-huruf—agar tetap tiada yang tahu.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

2 thoughts on “Di Batas Sunyi”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s