Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Perjumpaan perempuan pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Dan kamu yang batu. Atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak, tak bersuara, bahkan untuk sekedar berucap ‘aduh’, atau ‘tidak’. Kamu yang diam-diam berairmata. Menangis dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di Continue reading Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)

Bunga-bunga mulai bermekaran, serupa sakura di musim semi. Puisi-puisi rindu ditulis dengan namamu tersirat di sana. Dan seperti adegan jatuh cinta dalam film-film bollywood, tiap detik kehidupan yang kujalani seolah punya musik latar dengan tema lagu-lagu cinta yang siang malam terus berputar. Kadang aku ikut bernyanyi, tentu dengan kesadaran penuh perihal kualitas suaraku yang menyedihkan. Tapi aku tak peduli, setiap orang yang sedang jatuh cinta selalu berhak untuk menjadi penyanyi, setidaknya untuk dirinya sendiri. Setiap orang yang sedang jatuh cinta berhak untuk bergembira.

Satu kejujuranku, kuingin jadi cicak.. di dindingmu. Cicak.. di dindingmu, kata Dee dalam salah satu lirik lagunya. Tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada lagu itu, yang terus terngiang bersama perasaan ingin terus ada di dekatmu. Tapi aku tak senaif Dee. Aku tak ingin jadi cicak, yang keberadaannya barangkali tak kau hiraukan sama sekali. Aku tak ingin jadi cicak yang ketika berusaha mendekatimu justru membuatmu berlari. Menjauh. Atau berteriak memanggil siapa saja untuk menangkap dan membuangnya ke tempat paling asing. Bahkan terlalu asing untuk mengingat jalan pulang ke tempatmu lagi.

Aku ingin jatuh cinta dengan kesadaran penuh sebagai laki-laki sejati. Laki-laki yang bahunya bisa jadi tempat bersandar dan bukan cicak yang lemah.

Pengakuan ini jujur adanya, bahwa hadirnya perasaan itu merupakan satu pengalaman hati yang indah. Lalu kemungkinan-kemungkinan tentang jalur yang bertemu di persimpangan itu mulai hadir, setidaknya dalam khayalku: aku ingin melewati setiap episode kehidupan bersamamu, sudikah kiranya dirimu?

Akankah kita berjalan berdampingan, di jalur yang sama, dan bersepakat untuk menuju satu destinasi abadi yang tunggal tak terbagi? Itu pertanyaanku kemudian. Pertanyaan yang saat itu kusimpan sendiri. Di hati dan jangan sampai merambat untuk terucap. Sebab perempuan seindah dirimu tak pernah layak menjalani kebersamaan yang prematur. Dan sampai saat itu tiba, atas nama rasa tak berdaya, aku hanya bisa bicara dengan keheningan—bahasa hati paling sejati.  Atau pada halaman-halaman kertas kosong yang Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 2)

…..

Begitu pula pada bulan-bulan berikutnya. Pesonamu belum juga berhasil menawanku.

Jumpa pertama denganmu kala itu adalah gerbang menuju aktivitasku yang baru sebagai anggota lembaga legislatif di kampus. Aku menjalani keseharianku sebagai mahasiswa yang datang ke kampus bukan untuk sekadar kuliah. Waktu-waktu di luar kuliah kugunakan untuk rapat, mengerjakan beberapa program kerja, bertemu berbagai jenis orang, dan aktivitas lainnya.

Di waktu yang agak senggang aku membaca buku, menonton film, atau mendengarkan lagu-lagu Radiohead. Meski aku bukan pecinta musik, aku selalu menyukai band asal Inggris itu. Lewat lirik dan musiknya, Radiohead seperti punya daya magis yang selalu mampu menghisapku ke dalam pusaran emosi yang mereka ciptakan, ikut berputar-putar di dalamnya, sampai akhirnya berhenti di satu titik perenungan yang sunyi untuk menanyakan kembali makna cinta, hidup, dan kemanusiaan.

I’m a creep. I’m a weirdo.
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here.

Jiwaku masih saja bergetar setiap mendengar Thom Yorke menyanyikan lagu ‘Creep’ itu dengan begitu lirih. Ada semacam kejujuran yang menyeruak ke luar, seolah ingin bercerita pada dunia bahwa jauh di dalam jiwanya ada luka yang menganga. Perih, menyakitkan, tapi seperti tak mau diobati. Aku tak pernah tahu di dunia ini sungguh ada kesedihan macam itu, sampai aku jatuh cinta padamu.

Setahun setelah jumpa pertama itu, Tuhan mulai menampak-kan keromantisan-Nya. Atau, barangkali aku yang tak tahu diuntung ini yang baru menyadarinya. Entahlah, aku lebih yakin pada kemungkinan kedua.

Kita dipertemukan dalam satu lembaga eksekutif yang memaksa kita untuk—mau tidak mau—bertemu dan saling bicara hampir setiap hari. Aku diamanahkan sebagai wakil ketua dan kau sekretaris. Terlalu indah untuk disebut kebetulan. Kita berkenalan satu sama lain dan aku mulai tahu banyak tentangmu. Kau bercerita tentang berbagai hal yang berkaitan tentang dirimu. Tidak banyak memang, tapi bahkan yang sedikit itu sudah cukup membuat sepasang kelopak mataku rela menahan nalurinya untuk berkedip.

Kini aku sadar aku selalu merindukan momen itu—detik-detik ketika kau bercerita apa saja tentangmu.

Aku selalu suka mendengar nada bicara dan suaramu ketika mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku selalu ingin merasakan kembali indahnya dunia saat waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka, hanya untuk mendengarkanmu bicara—aku, tak terkecuali.

Aku menyerah. Diam-diam aku mulai Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 2)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Inilah hidup: betapa banyak peristiwa romantis yang tak pernah benar-benar kita rencanakan. Seperti, barangkali perjumpaan kita. Dan sampainya kita di titik ini.

Suatu hari di bulan Oktober 2009.

Di ruang kelas mungil itu, pertama kali aku mendengar namamu, sekaligus mengambil satu kesimpulan kecil: wajah yang indah selalu bersanding dengan nama yang indah. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan bagiku. Dan kamu, dengan wajah yang tampak susah payah menutupi kegugupanmu duduk di depan. Seingatku, di kursi sebelah kiri dari arahku. Detik itu, aku tengah menanti giliran untuk kau panggil.

Kira-kira itulah ingatan tentang jumpa pertama kita yang mampu kugali dalam memoriku.

Perjumpaan pertama kita memang bukan tabrakan tak sengaja a-la sinetron di koridor kampus yang membuat buku-buku yang kau bawa di tanganmu jatuh berserakan, kemudian aku yang merasa bersalah setengah mati meminta maaf sambil bantu membereskan, diikuti dengan dua pasang Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Aku Tanpamu, adalah…

Apa yang bisa menahan manusia, dari keinginan untuk memiliki setiap hal yang memukau di dunia? Apa yang bisa membunuh berahi manusia untuk mengoleksi setiap inci keindahan yang membentang di semesta? Apa yang bisa memaku waktu, untuk berhenti beberapa detik saja, demi mencipta satu ruang untuk merayakan satu perasaan sunyi, tanpa teriakan dan tepuk tangan, tanpa hujatan juga makian?

Apa yang bisa melakukan berbagai hal magis itu, jika bukan cinta yang hadir bersama seorang perempuan lugu. Didekapnya cinta itu seraya bibir tipisnya tersenyum lalu dengan lembut berbisik: kita akan baik-baik saja.

Dan semua memang baik-baik saja.

Perut kita kenyang dengan sepiring cinta yang kita makan berdua, kau menyuapiku seperti Continue reading Aku Tanpamu, adalah…

Terbit 10 April: Konspirasi Semesta

Publikasi 2 - C

Jika harus diadu siapa di antara kami yang cintanya lebih besar, aku percaya diri, akulah juaranya. Ia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama, sementara aku jatuh cinta padanya bahkan sebelum aku memandangnya.” – Annisa Larasaty

Rijal selalu mengira dialah yang lebih dulu jatuh cinta pada Laras, tepatnya ketika pertama kali melihatnya membaca puisi di Teater Daun. Dia tak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu, Laras telah jatuh cinta bahkan sebelum bertemu dengannya. Dia juga tak pernah tahu, kehadirannya telah menyembuhkan Laras dari philophobia yang dialaminya selama bertahun-tahun.

Di antara hal-hal yang tidak Rijal tahu itu, ada kenangan masa lalu yang selalu menghantui Laras. Bahkan, di ulang tahun pertama pernikahan mereka, Laras justru Continue reading Terbit 10 April: Konspirasi Semesta

Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal

Dulu, sebagaimana pandangan orang pada umumnya, saya percaya bahwa salah satu modal penting sebuah pernikahan adalah saling mengenal. Sebab, dari saling mengenal itulah bisa diukur kira-kira cocok atau tidak ketika si A menikah dengan si B. Dari saling mengenal itulah bisa lahir satu keyakinan bahwa si A dan si B bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Putus-nyambung-putus-nyambung dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran pun dianggap wajar sebagai ikhtiar untuk saling mengenal. Seolah sulit sekali mencari pasangan hidup yang—dirasa—tepat.

Setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, jatuh bangun membangun rumah tangga, saya rasa ide tentang ‘kewajiban saling mengenal sebelum menikah’ itu bukan satu hal yang mutlak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Rasanya berlebihan sekali.

Dalam arti, saya kira hal itu sebenarnya bisa jadi urutan kesekian.

Saya pertama kali mengenal Vidia Nuarista di akhir tahun 2009. Saat itu, sekadar tahu nama, wajah, jurusan dan segelintir aktivitasnya di kampus. Lalu menjadi semakin kenal di tahun 2011, ketika kami sama-sama menjadi badan pengurus harian di sebuah organisasi. Saya wakil dan ia sekretaris. Tahun 2014, kami menikah.

Jadi, kalau dihitung-hitung, jarak yang terbentang dari jumpa pertama ke pernikahan lebih kurang lima tahun. Sementara jarak antara perkenalan yang lebih dalam ke pelaminan adalah tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, ada banyak hal yang saya catat dari seorang Vidia Nuarista: bagaimana caranya bicara, bekerja, tertawa, menghadapi masalah, dan sebagainya. Termasuk jilbab warna apa yang membuatnya terlihat lebih anggun. Diam-diam dan Continue reading Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal

Membaca Duka

Hari ini, pagi-pagi sekali di dalam kepalaku sudah berputar-putar sekelumit pertanyaan tentang hujan yang turun begitu deras. Terutama, dalam rangka apa ia datang dan mengapa ia mesti datang dengan jumlah banyak. Duka di dalam dada siapa yang ingin ia hapus, atau anak Adam mana di kolong langit ini yang Continue reading Membaca Duka

Seloroh tentang Jodoh & Jatuh Cinta yang Bodoh

“Key, hidup harus terus diteruskan. Lingkaran waktu harus terus berputar. Dan, meski aku tak ingin pergi dan kamu tak ingin aku pergi, hidup sering kali harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan.”

“Barangkali, aku bukan laki-laki terbaik di dunia, karena memang tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Aku hanya laki-laki biasa, yang menemukan sebagian dirinya di dalam dirimu.”

“Dan, rasa kehilangan adalah pengalaman ajaib yang membuat kita lebih mengerti tentang rasa memiliki—di mana sepi selalu melubangi benteng air mata, di mana lesat waktu tak bisa kita kejar, di mana jarak tak bisa kita ringkas.”

Tiga paragraf di atas secara acak saya kutip dari novel Jodoh karya Fahd Pahdepie. Bukan kutipan-kutipan yang paling saya suka memang, sebab jika harus menulis kutipan favorit dari novel ini, bisa-bisa saya menyalin setengah atau tiga perempat isi buku. Berlebihan mungkin, tak apa lah. Sebab setiap pujian, kata Fahd, mungkin memang ditakdirkan untuk Continue reading Seloroh tentang Jodoh & Jatuh Cinta yang Bodoh

Waktu & Kesabaran

Allah mencipta begitu banyak pasangan pertanyaan-jawaban, tapi tak selalu menurunkan keduanya di waktu yang sama.

Telah sejak lama aku meyakini ide ini.

Betapa banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku ketika kecil, namun baru terjawab saat beranjak dewasa. Aku juga selalu percaya, di kolong langit ini, setiap orang selalu punya satu atau beberapa pertanyaan sulit dalam hidupnya, yang sekeras apapun usahanya mencari jawaban atas pertanyaan itu, tidak jua bertemu. Sampai waktu berlalu dan tabir demi Continue reading Waktu & Kesabaran