Terbuang, Berulang

Kita melihatnya secara tiba-tiba di layar ponsel. Atau mendengarnya secara tak sengaja dari sebuah percakapan. Atau, melihatnya dikenakan oleh seseorang yang kita kagumi. Lalu, tiba-tiba kita ingin memilikinya juga.

Kita mulai menggali semua informasi tentangnya: sejarah, harga, variasi, lebih dan kurangnya, di mana dan bagaimana kita bisa mendapatkannya. Kita tahu harga yang harus dibayarkan tak masuk hitungan, tapi fakta itu selalu kalah oleh keyakinan bahwa memilikinya, dengan cara apa pun, akan mendatangkan kebahagiaan. Dan bukankah kebahagiaan adalah hal terujung yang ingin kita gapai?

Lalu kita memaksakan diri. Kita membelinya, dan senang bukan main ketika hal itu benar-benar kita miliki. Saat itu kita merasa, Continue reading Terbuang, Berulang

Buku Terbaru: Belajar Mencintai

Blogsd

Lima tahun lalu, di penghujung usia 20 tahun, aku menikah. Aku masih berstatus mahasiswa sarjana, sudah berpenghasilan tetapi tidak tetap, bukan anak konglomerat, dan aku … menikah. 10 November 2013, seorang diri aku menginjakkan kaki di Gresik, mengetuk sebuah rumah, dan menyatakan kepada sang pemilik rumah bahwa aku ingin dan akan menikahi anak perempuan cantiknya. Empat bulan kemudian, kami resmi menjadi sepasang suami-istri.

Jika rumah tangga adalah bahtera yang kami naiki untuk menuju Pulau Cita, telah genap lima tahun kami berlayar. Lima tahun itu kira-kira sama dengan 60 purnama, 240 akhir pekan, 1.825 senja, dan 6.570.000 detik. Itu waktu yang telah kami habiskan bersama sebagai sepasang suami-istri. Belum cukup panjang memang, tetapi juga tak bisa dikatakan singkat.

Meski lima tahun terakhir adalah lima tahun terbaik dalam hidupku, perjalanan kami tak selalu mudah. Ada saja gelombang-gelombang yang harus kami taklukkan. Sesekali, bahkan badai datang tanpa tanda atau aba-aba. Untuk itu, suka duka di dalamnya, terutama bagaimana upaya kami membangun hubungan yang harmonis di tengah beragam situasi, kuabadikan di dalam memoar ini. Sebagai kenangan, syukur-syukur jika darinya bisa dipetik pelajaran.

Buku ini terdiri dari sepuluh bab dan dilengkapi dengan prolog dan epilog. Masing-masing bab menceritakan momen-momen paling berkesan selama lima tahun berumah tangga dan pelajaran-pelajaran penting yang bisa diambil dari kejadian-kejadian di dalamnya. Misalnya, di bab ‘Jatuh Cinta vs Mencintai’ aku menceritakan transformasi besar dari ‘orang yang sedang jatuh cinta’ menjadi ‘orang yang mencintai’. Lalu, di bab ‘Cinta itu Tumbuh dan Menumbuhkan’ aku bercerita tentang bagaimana kami melewati masa-masa awal pernikahan dengan keterbatasan ekonomi. Di bab ‘Saling Mengenal Tanpa Akhir’ aku bercerita bagaimana kami belajar untuk berusaha memahami bahwa laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda, termasuk bagaimana kami menyiasati hal itu.

Ada pula cerita tentang bagaimana meyakinkan orang tua dan calon mertua untuk menikah di usia yang terbilang muda, kehidupan rumah tangga setelah diamanahi anak, menjaga hubungan baik dengan orang tua dan mertua, pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dan bagaimana kami menyelesaikannya, jatuh-bangun merintis usaha bersama, serta bagaimana kami mengantisipasi perasaan jenuh terhadap pasangan di dalam bab ‘Jatuh Cinta Setiap Hari’.

Di dalam buku setebal 260 halaman ini juga terdapat satu bab terpanjang berjudul ‘Pernikahan & Sepaket Kejutan’ yang ditulis oleh istriku, Vidia Nuarista Annisa Larasaty. Ia menceritakan bagaimana menjaga hatinya selama belum menikah, proses taaruf & perasaannya ketika dilamar, pengalamannya menikah dengan laki-laki yang lebih muda, suka duka menjadi ibu rumah tangga, serta merangkum perjalanan cinta kami hingga hari ini dari sudut pandangnya sendiri sebagai seorang istri, ibu, sekaligus perempuan dengan begitu jujur.

Tentu saja, ini bukan buku panduan. Ini hanyalah cerita tentang bagaimana kami yang masih hijau belajar membangun rumah tangga yang harmonis. Ini juga bukan sekadar buku curhat. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling jatuh cinta belajar mencintai.

***

Pesan buku Belajar Mencintai di sini.

Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi lampu harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum saatnya kamu hidup nyaman. Memang masih banyak jatah gagal yang harus kamu habiskan. Jangan berhenti di sini.

Di atas semua itu, teruslah berdoa dan berbaik sangka. Jika daun yang sudah menguning saja tak ‘kan jatuh tanpa izin-Nya, apalagi cita-citamu yang indah itu.

Orang yang Tepat

Barangkali, kita ini sering salah paham. Kita mengira, untuk menjadi pecinta yang baik, satu-satunya yang dibutuhkan adalah seseorang yang tepat. Seolah-olah, mendapati seseorang yang kita kagumi di sisi kita adalah kunci menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ini seperti seorang calon koki yang mengira bahwa satu-satunya yang dibutuhkan untuk menjadi koki yang hebat adalah bahan makanan pilihan yang mahal dan berkualitas tinggi. Atau seorang yang ingin jadi pelukis, namun yang dilakukannya hanyalah menunggu objek yang tepat. Dengan begitu, dikiranya, ia bisa mencipta lukisan yang indah.

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, lalu menjadi koki yang hebat, aneka bahan makanan bisa diolah menjadi masakan lezat. Kalau belajar melukis dengan sabar, objek apa pun bisa jadi karya seni yang tak ternilai. Dengan membangun kemampuan mencintai, siapa pun orangnya, bagaimana pun latar belakangnya, di mana pun dirinya sekarang, kita siap mewujudkan rumah tangga yang bahagia.

Barangkali …

Relakan Saja

Jika seseorang yang kamu inginkan berusaha menjauhimu, mungkin baginya kamu memang payah. Ia punya standar yang gagal kamu penuhi, karena itu ia pergi. Relakan saja. Bila perlu, beri ia sayap agar dapat terbang sejauh yang ia mau.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya ruang untuk introspeksi diri. Merenung tentang hal-hal yang harus kamu perbaiki.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya keleluasaan untuk menemukan seseorang yang lain. Menanggalkan kaca mata kuda yang selama ini kamu kenakan dan mulai mencari dengan sudut pandang lebih luas. Pasti ada seseorang di sana. Yang kamu inginkan dan menginginkanmu. Yang kamu hargai dan menghargaimu. Yang kamu terima kelemahannya dan bersedia memaafkan ketidaksempurnaanmu.

Pasti ada seseorang di sana, yang hatimu bergetar kala menatapnya dan tersipu saat kamu memujinya. Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta.

Tentang Jodoh, untuk Para Perempuan

Pernikahan kami belum genap lima tahun. Kemampuan kami dalam membina rumah tangga, belum benar-benar teruji. Pelaksanaan tanggung jawab saya sebagai suami dan ayah, masih kurang di sana-sini. Wawasan saya soal hubungan asmara, terbatas pada pengalaman yang singkat plus sedikit buku yang saya baca.

Tapi, kalau diminta memberi satu nasihat tentang jodoh oleh seorang perempuan, saya akan sampaikan ini:

Jangan menikah dengan laki-laki yang ingin kamu mencintainya sebagaimana ibunya mencintainya. 

Laki-laki yang terobsesi untuk mendapat pasangan seperti itu, adalah seorang yang kekanak-kanakan. Ia akan selalu menganggap dirinya seorang anak yang bisa setiap saat mendapat cinta tanpa syarat dari sang ibu. Ia ingin dicintai, tetapi tidak pernah belajar mencintai. Ia ingin dimengerti, tetapi tak berusaha untuk mengerti. Ia berharap bisa terus menerima, tetapi lupa memberi. Ia mungkin akan melakukan kesalahan demi kesalahan, kemudian berlindung di balik tameng pemakluman.

Lagipula, tak ada yang bisa menandingi cinta seorang ibu.

Sepasang kekasih bisa saling mencintai, karena mereka yakin: dengan saling memberi, dengan saling mendukung, kebersamaan mereka akan semakin langgeng. Itu cinta yang menyatukan. Tetapi, seorang ibu mencintai anaknya tanpa syarat, merawat, mendidik, menumbuhkan, hanya untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa anak itu akan tumbuh dewasa, mandiri, dan perlahan-lahan akan melepaskan diri darinya.

Seorang ibu akan terus mencintai anaknya, apa pun yang terjadi. Dan kamu tidak akan pernah sanggup melakukan itu.

Jadi, jangan menikah dengan laki-laki yang ingin kamu mencintainya sebagaimana ibunya mencintainya. Kecuali, kamu siap kehilangan kewarasan.

Tak Perlu Jelaskan Apa-apa

Tak usah dijawab, bila kamu tak ingin menjawab. Mereka bukan polisi dan kamu bukan tersangka. Mereka hanya penasaran, atau basa-basi. Sekadar cuap tanpa intensi.

Sebuah senyuman sudah lebih dari cukup.

Jangan mengangguk, bila kamu tak setuju. Kadang-kadang memang ada perasaan berdosa ketika berkata ‘tidak’. Ada perasaan tak enak saat menolak. Tetapi, itu hanya ilusi.

Dosa yang sebenarnya adalah melawan fatwa hati.

Tak perlu jelaskan apa-apa. Tak usah susah payah merangkai kata. Beberapa kejadian dalam hidup memang terjadi begitu saja. Di luar rencana, bahkan sama sekali tak terduga. Selama itu baik, menuju ke arah yang baik, jalani saja dan biarkan masa depan menantimu dengan kejutannya.

Tak Selalu Tentang Kamu

Jangan mudah marah atau tersinggung.

Mereka tak sedang membicarakanmu. Mereka sedang membicarakan seseorang yang lain di sana. Entah siapa, tapi yang pasti bukan kamu. Jadi, simpan umpatanmu, panjangkan lagi sumbu amarahmu. Perbanyak piknik dan sibukkanlah dirimu dengan berbuat sesuatu.

Jangan dulu besar hati, apalagi kepala.

Ia tak benar-benar peduli padamu. Tidakkah kau melihat ada udang di balik batu ucapannya? Buka mata lebar-lebar, pandanglah lebih jauh dan dalam. Ia tak benar-benar mencintaimu. Ia hanya ingin mencintai dirinya sendiri melalui dirimu. Jadi, simpan kesungguhanmu. Hadiahkan untuk mereka dan Ia yang selalu ada.

Jangan berpikir terlalu jauh. Jangan.

Apa yang berlangsung di muka bumi, termasuk yang terjadi di sekitarmu, tak selalu tentang kamu.

Akan Tetap Pergi

Suatu waktu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir di hidupmu. Bagimu, ia sosok yang tepat. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi sebagian besar yang ada di dirinya sudah sesuai kriteria.

Tidak salah lagi. Kali ini, kamu cukup yakin keluarga dan lingkunganmu akan menerimanya dengan tangan terbuka. Akan ada satu dua yang saling berbisik tentang ketidaksempurnaannya, tentu saja, tetapi tidak apa-apa. Itu tandanya ia masih manusia.

Ini pasti konspirasi semesta, batinmu. Tiba-tiba harimu jadi penuh bunga.

Lalu, tanpa menunggu lama, kamu diam-diam mendekatinya. Mencari tahu apa yang disuka dan tak disukanya. Menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja. Melakukan aneka tindakan bodoh untuk mencuri perhatiannya. Merancang strategi tahap demi tahap untuk memenangkan hatinya.

Sayangnya, ia tampak acuh tak acuh pada setiap usahamu. Setelah semua yang kamu lakukan, baginya dirimu hanyalah seorang teman, sebagaimana orang-orang lain di sekitarnya.

Kamu marah, entah pada siapa. Tetapi bisikan itu terus terngiang di telingamu: amour vincit omnia … cinta menaklukkan segalanya. Belum lagi imaji tentang betapa indahnya dunia bila kamu bisa selalu bersama dengannya. Maka, meski masih sibuk menyatukan potongan-potongan hati yang patah, kamu tak berhenti berusaha.

Hatinya pasti kan luluh bersama waktu, ucapmu meyakinkan diri.

Sayangnya lagi, ia benar-benar ingin pergi. Kamu sedih, tentu saja, tetapi Continue reading Akan Tetap Pergi

Undo

Salah satu manfaat yang paling terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula—kesalahan diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka recyclebin, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.

Sayangnya, hal demikian tak selalu berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’ yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika Continue reading Undo