Hujan… dan (kuasa) Tuhan

by Azhar Nurun Ala

Image

Satu dari sekian banyak hal yang tak biasa di bulan ini adalah hujan yang tak berujung. Pagi hingga malam. Malam sampai pagi. Maka hadirlah banjir di sana, menggenang rumah-rumah, sekolah, tempat ibadah, jalan, sampai rel kereta. Terendam lah barang-barang berharga kita. Terhambat lah aktivitas kita. Maka kamu yang sedang membaca tulisan ini barangkali sekarang tengah di rumah, tidak beranjak kemana-mana sebab hujan dan banjir yang menggenang terlalu tidak wajar untuk ditembus dengan daya yang kamu punya. Maka kamu yang sedang membaca tulisan ini barangkali sekarang tengah berkumpul bersama keluarga: Ayah, Ibu, Kakak, Adik yang juga tak beranjak kemana-mana karena alasan yang sama.

Banjir barangkali akan usai. Tapi derita tak berakhir di sana. Tak lama kemudian bahkan setelah banjir tak bersisa sekalipun, akan muncul berbagai jenis penyakit: diare, gatal-gatal, korengan, infeksi saluran pernafasan, dan berbagai penyakit-penyakit lain yang akan terus mewabah.

Semua realita ini kini memaksa kita untuk percaya: hujan memang tak selamanya romantis.

……

Hujan yang tak berujung, banjir yang menggenang berbagai daerah di bumi pertiwi, penyakit-penyakit yang satu persatu mulai bermunculan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Apakah Allah sedang menghukum kita yang jarang bersyukur ini?  Mungkin saja.

Apakah Allah sedang menguji kita: ‘Dalam segala kesulitan ini, masihkah kita tegar untuk terus beribadah dan percaya Allah selalu punya rencana yang terbaik?’ Barangkali begitu.

Apakah Allah sedang memperingatkan kita, bahwa kuasa ‘Kun fa yakun’ itu benar adanya, dan tiada keraguan di dalamnya—bahwa ketika Allah telah berkehendak, tiada daya atau upaya apapun yang bisa melawannya? Bisa jadi.

Yang pasti, dengan hujan yang tak berujung di bulan Januari ini Allah tengah berbaik hati. Memberikan waktu yang panjang bagi kita untuk panjatkan beragam doa untuk kemudian diijabah-Nya. Bukankah begitu sabda Rasulullah, bahwa tiada tertolak doa pada dua waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun?

Maka berdo’alah…

Sebanyak-banyaknya. Sampai kita merasa Allah telah bosan mendengar doa kita.

~

gambar dari sini

About these ads