Merapikan Kenangan

Menulis adalah Merapikan Kenangan

Kemauan yang Tak Mau Sendirian

DSC_0357

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu. Maksudku, dua manusia pemalu—memangnya siapa aku memasang-masangkan aku dan kamu? Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat. Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan juga tak begitu saja luput. Ia terus ada mencipta gelisah, sementara tangan kita saling menggenggam dan mencoba untuk melawan semuanya: kita pasti bisa melewati ini.

Dulu, perasaanku adalah sebuah rahasia kecil, dan ketidakpedulianku atas setiap hal yang berkaitan dengan dirimu adalah sandiwara yang menyakitkan. Sampai akhirnya kita mencoba untuk saling bicara, bahwa memang ada cinta di sana yang telah lama menanti untuk kita rayakan—entah sejak kapan. Lalu kau tenggelam dalam pelukku, dan tanpa perlu bersuara, pesan itu sampai: bawa aku kemanapun kau mau.

Kini, telah sampai kita di sini. Mengucapkan selamat tinggal pada segala jenis ketakutan yang Read the rest of this entry »

Menghijaukan Hati di Taman Gurame

8

Setiap week-end, khususnya hari Minggu, jika memang nggak ada agenda ke luar kota saya dan Rista biasanya jalan-jalan. Sekedar jogging/badminton-an di Car Free Day Depok (di Boulvard Grand Depok City) atau ke tempat yang agak jauh seperti Kebun Raya Bogor. Kadang-kadang ke Mall juga sih kalau lagi ada perlu, yang jelas kami senang jalan-jalan. Sementara Rista suka tempat yang ramai, saya justru lebih nyaman di tempat-tempat yang sejuk dan tenang—selama ada yang jual makanan tentu saja.

Kebetulan sekali beberapa hari yang lalu saya sempat diundang mengisi sebuah acara di daerah Pancoran Mas, Depok. Panitia yang menghubungi memberikan patokan tempat acara: ‘di belakang Taman Gurame’. Awalnya, saya kira Taman Gurame itu semacam rumah makan yang menyediakan aneka olahan gurame, dan ternyata saya salah besar. Ketika sampai di tempat acara, dari luar saya melihat Taman Gurame ini semacam Taman Suropati, di sana ada beberapa keluarga jalan-jalan, atau sekedar duduk menikmati alam yang asri. Pada waktu itu baru sempat melihat dari jauh, sehingga ketika ke rumah saya membawa pulang rasa penasaran.

Pagi ini, kebetulan saya nggak ada agenda ke luar kota sehingga bisa jalan-jalan. Awalnya mau CFD-an saja, sampai tiba-tiba saya teringat kembali sama si Taman Gurame. Read the rest of this entry »

Mengelilingi Matahari 22 Kali

IMG_20141102_181507

Hidup ini lucu. Begitu banyak hal menyenangkan yang membuat kita seperti ingin hidup selamanya, juga tak sedikit hal menyebalkan yang diam-diam membuat kita berharap tak pernah dilahirkan. Kadang jadi anugerah, kadang dirasa musibah. Kadang kita menjalaninya dengan senyum optimisme, kadang kita hanya ingin melewatkan semuanya—saat tiap detik terasa begitu menyiksa.

Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.

Tapi, untuk itukah kita dicipta?

Beberapa hari yang lalu, saya menggenapkan perjalanan mengelilingi matahari sebanyak 22 kali. Banyak, ya? Iya, banyak dan tak terasa. Entah bagaimana caranya hari ini saya sudah berada di titik ini—titik yang tak pernah saya duga, apalagi rencanakan. Ah, saya memang bukan perencana yang baik.

Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya merayakan cinta dengan seorang bidadari bernama Vidia Nuarista Annisa Read the rest of this entry »

Laut & Kebohongan-kebohongan

Wave_of_the_Future_by_gilad

Laut apa yang tengah kita arungi?

Selepas indahnya pantai, katanya, akan banyak ombak besar mengerikan. Mereka yang punya daya lebih dari cukup untuk menghantam dan memisah-misahkan—menjauhkan ragamu dari pelukku. Tapi itu katanya, bukan nyatanya. Sebab kata-kata memang tak selalu nyata. Sebagian besar dari mereka hanyalah bualan, atau, barangkali semacam ketakutan pribadi yang ingin ditularkan.

Mereka yang suka menularkan ketakutan, seperti seorang anak yang karena terlalu banyak menonton film horror, ketakutan saat melewati kuburan. Lalu ia mengarang-ngarang cerita tentang hantu gentayangan yang dibangun dari hasil imajinasinya sendiri untuk membuat teman-temannya ikut merasakan ketakutan itu. Agar ia tak sendiri. Dan tentu bisa kita Read the rest of this entry »

Subuh & Daun yang Basah

IMG_20141211_173822

Pada suatu subuh saat daun masih basah, kuhirup udara di bawah remang lampu jalan. Itulah detik yang menenangkan: ketika aku melepas rindu yang kuikat semalaman bersama mata yang terpejam. Lalu hanyut aku dalam sujud-sujud kemenangan, bahwa berbagai rayuan telah mampu kukalahkan. Tanpa parang, tanpa pedang.

Belum habis subuh berjalan, senyummu terbit melangkahi matahari. Bibirmu mekar mendahului Read the rest of this entry »

Kebohongan yang Membahagiakan

For a second, I was in control
I had it once, I lost it though
And all along the fire below would rise*

Seringkali kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi: apa yang berputar-putar dalam kepalaku dan apa yang bergemuruh di dalam hatimu. Hanya ada sesuatu yang lain—semacam kehausan yang mendera tenggorokan kita. Dan aku gagap dibuatnya. Sementara kau bisu menahan kata. Keheningan jadi singgasana kita: aku raja dan kau ratunya.

 And I wish you could have let me know
What’s really going on below
I’ve lost you now, you let met go but one last time*

Kau tahu, cinta adalah mata air sementara keraguan adalah sumbatan-sumbatan yang membuatnya tak mengalir. Maka yakinkan dirimu dan biarkan aku tahu apa yang kau rasakan. Yakinkan dirimu dan biarkan aku mendengar apa yang ingin kau ucapkan. Sebab keterdiaman telah membuatku bosan, meski rindu tak jadi layu karenanya.

Tell me you love me, if you don’t then lie, oh lie to me*

Berhentilah membisu dan katakan sesuatu.

Katakan bahwa adalah cinta yang bergemuruh di dalam hatimu. Meski sesungguhnya tak seperti itu. Aku terlanjur tertipu Read the rest of this entry »

Anak Tangga

ladder_back_by_cucat-d2zg3zi

Bagaimana cara membuang jauh-jauh berbagai bentuk kekhawatiran yang semakin hari semakin tinggi kadarnya?

Bagaimana mengusir berbagai jenis ketakutan akan masa depan yang terus menggerus prinsip hidup—yang diam-diam mulai kita ragukan?

Bagaimana melepas kecintaan kita pada materi yang begitu berlebihan sampai-sampai membuat kita lupa pada makna?

Entahlah.

Tapi,

Read the rest of this entry »

Meninggalkan Masa Lalu

other_visions__by_m0thyyku

Sebagian manusia hidup dalam masa lalunya, pura-pura nyaman hidup dalam angan-angan yang sudah jadi kenangan.  Tangannya yang layu mendekap tubuhnya sendiri. Kakinya melangkah, tapi kepalanya terus menoleh ke belakang, berjibaku melawan waktu yang terus berjalan ke depan. Tanpa ampun. Tanpa pengertian sedikitpun.

“Gelap akan berganti terang, terang akan disusul gelap. Apa bedanya?”, katanya suatu hari. “Kalau kehidupan manusia selalu berputar dan sejarah berulang, apa bedanya masa lalu dan hari ini? Bukankah itu artinya masa depan adalah masa lalu juga sebenarnya?”

Barangkali kehidupan memang berputar. Boleh jadi sejarah memang berulang. Tapi dunia ini punya akhir. Kehidupan punya Read the rest of this entry »

Kepastian yang Menjemukan

blog

Dulu kau selalu bilang, kau benci ketidakpastian. Kukira, manusia kebanyakan memang begitu, utamanya perempuan. Ketidakpastian itu mencemaskan, kadang melalaikan, kadang membuat kita terburu-buru. Ketidakpastian telah menjadi semacam kekhawatiran abadi yang membuat manusia begitu ketakutan, seolah tak punya tempat perlindungan.

Berjalan lurus ke depan dengan beberapa tanjakan ringan yang sudah kita hafal memang lebih menenangkan daripada menembus hutan, menyeberangi sungai, mendaki gunung, atau mengarungi apa saja yang menantang untuk diarungi sambil mengira-ngira apa yang akan terjadi. Meski sebenarnya kita tahu jalan yang biasa-biasa saja tak ‘kan pernah mengantar kita ke puncak gunung untuk bisa menatap awan sambil menunduk.

Kini kau di sini, hidup berdampingan dengan manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Kupikir kau akan membenciku, tapi hangat dan tulusnya senyummu berkata lain. Ia mengungkap satu pemahaman baru yang lahir dari cinta dan Read the rest of this entry »

Membicarakan Masa Depan

IMG_20140920_000305

Jurusan apa yang akan kita ambil? Di perusahaan mana kita akan bekerja? Rumah tipe berapa yang akan kita huni? Mobil macam apa yang akan kita beli? APV, Camry, Mercy?

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, barangkali pertanyaan-pertanyaan itu sudah tak lagi asing, bahkan barangkali begitu sering hadir di kepala kita.

Demi masa depan yang cerah, kita melakukan segalanya. Tentu saja, karena tiap-tiap kita ingin tenang hidupnya. Tiap-tiap kita ingin menjalani hidup dengan bahagia.

Atas nama ‘masa depan yang cerah’, kita semua berlomba. Berkejar-kejaran dengan waktu, menuntaskan segala macam targetan yang menjadi syarat agar masa depan kita bisa dimasukkan ke dalam kategori ‘cerah’. Bukan suram apalagi gelap.

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, seringkali kita mendadak menjadi perencana Read the rest of this entry »

Mengganti Cita-cita

sf

“Apa yang harus kita lakukan kalau jurusan yang sedang kita ambil ternyata tidak sesuai dengan cita-cita kita? Bagaimana kalau kita menetapkan cita-cita kita yang sesungguhnya belakangan setelah terlanjur memilih jurusan?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap saya temui dalam sesi-sesi sharing, terutama di acara-acara kampus yang pesertanya sudah tentu hampir semua mahasiswa. Barangkali kita juga pernah mengalami kegalauan semacam ini, ketika apa-apa yang sedang kita jalani tak pernah benar-benar kita nikmati. Ketika keindahan-keindahan yang kita impikan—atas nama masa depan—tergilas oleh beragam tuntutan yang lebih sering membuat kita kehilangan keseimbangan. Jadilah kita oleng, lantas terombang-ambing ke sana ke mari diseret-seret oleh tren yang tak lain dan tak bukan dibuat-buat manusia.

Pertanyaan tentang cita-cita, passion, dan sejenisnya memang akan selalu ada karena manusia dan zaman berubah. Sehingga upaya untuk mengenal diri dan lingkungan sejatinya adalah upaya yang tak punya akhir. Jadi bersyukurlah mereka yang hidupnya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, bersyukurlah mereka yang tak pernah berhenti mencari.

Tentang cita-cita, saya menyisipkan pandangan saya lewat beberapa paragraf tulisan di dalam buku ‘Seribu Wajah Ayah’. Berikut saya hadirkan dalam postingan ini, semoga bisa jadi bahan diskusi dan renungan.

……………

Mengganti cita-cita karena kita sadar kita tak pernah menginginkannya, barangkali tak termasuk sebuah kepengecutan. Justru, boleh jadi, bertahan pada cita-cita yang tak sesuai dengan suara hatilah yang merupakan kepecundangan. Kita tak dewasa untuk mendengarkan nurani kita sendiri. Tak berani menapaki jalan yang kita percaya hanya karena takut pada orang-orang di sekeliling kita yang sudah terlalu mahir mencela yang-berbeda karena dilatih setiap hari.

“Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani,” kata Rhenald Kasali, “putar arah sekarang juga.”

Kalau di sebuah tempat ada dua buah jalan—katakanlah jalur satu dan jalur dua—dan kebanyakan orang berjalan di jalur Read the rest of this entry »

Mula Sebuah Tulisan

Processed with VSCOcam with b5 preset

“Halo, apa kabar?”

Terus terang kalimat tanya sekaligus sapaan ini tidak sepenuhnya saya tujukan kepada para pembaca—baik yang secara rutin membaca blog ini (jika ada) maupun yang nyasar sampai entah bagaimana caranya tiba di halaman ini, melainkan juga penulis. Ya, saya juga ingin menanyakan kabar diri saya sendiri, di tengah tumpukan kewajiban yang—meski sama sekali tak menyenangkan—mesti ditunaikan dan aktivitas yang meski mengasyikkan tetap saja menguras tenaga dan pikiran. Saya membuat tulisan ini di atas Kereta Bima yang bergoyang-goyang, dalam perjalanan menuju Purwokerto dalam rangka Bedah Buku ‘Tuhan Maha Romantis’.

Sungguh ingin sekali saya sampaikan bahwa pada mulanya, sejak berangkat dari rumah saya sudah membuat sebuah rencana: saya akan membunuh waktu di dalam kereta ini dengan melahap sebuah buku tentang kepenulisan. Naasnya, baru beberapa halaman saya baca, layar TV yang letaknya tak terlalu jauh dengan tempat saya duduk menanyangkan sebuah film yang dibintangi oleh Bruce Willis. Terjadilah pertempuran hati dan… seperti telah saya duga, Bruce Willis keluar sebagai pemenang—saya menutup buku, berhenti membaca.

Kurang lebih satu jam setengah kemudian film tersebut berakhir, dengan ending yang sudah saya ketahui karena sebelumnya sudah pernah saya saksikan.

Film usai, layar TV berganti dengan acara yang tidak lagi menarik, sementara nafsu membaca saya sudah terlanjur reda. Akhirnya, beberapa menit yang lalu saya putuskan saja untuk membuka laptop dan menulis.

*

Kadang dalam kondisi semacam itulah sebuah tulisan bermula.

Pada saat-saat tertentu saya terpikir sebuah ide di kepala, mencatatnya di notes smartphone, lalu dengan tak sabar membuka laptop untuk segera menuangkannya ke dalam beberapa paragraf tulisan. Pada saat yang lain, saya hanya berpikir ingin menulis saja tanpa rencana atau gambaran tentang apa yang akan saya tulis. Saya hanya ingin menulis—apapun itu. Ini lah saat-saat di mana saya harus ‘head to head’ dengan selembar halaman putih yang kosong. Duel yang tak pernah mudah untuk dimenangkan.

Keadaan semacam itu hampir selalu berhasil membuat saya merasa tak percaya diri dan berpikir saya tak cukup kuat untuk melawannya. Bahkan untuk menatapnya pun saya ragu.

Untungnya, setiap hal itu terjadi, saya selalu ingat sebuah jurus yang diajarkan oleh Dee:

“Mulailah dari apa yang kita tahu, kita rasa dan kita lihat.” Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,620 other followers

%d bloggers like this: