Merapikan Kenangan

Menulis adalah Merapikan Kenangan

Selamat Mengoleksi. :)

wa

Tentang Buku Cinta Adalah Perlawanan

kover w

SEBUAH PENGANTAR

Kalau cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu.
Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru.

—kata Kahlil Gibran.

Sayangnya, seringkali kita tak pernah benar-benar tahu perihal bertepuk sebelah tangan atau tidaknya perasaan jatuh cinta yang kita punya, sebelum kita sungguh-sungguh mengungkapkannya. Sementara mengungkapkan cinta mengandung tanggung jawab yang besar. Sangat besar.

Menyatakan cinta barangkali tak semudah Read the rest of this entry »

Segera di Agustus, Buku ke-4: Cinta adalah Perlawanan

Blog

Lho kok bukan ‘Konspirasi Semesta’?

Dear sahabat-sahabat pembaca yang budiman di manapun berada. Kali ini saya ingin curhat. Boleh, kan? Boleh lah ya. Udah boleh aja. Terima kasih, saya mulai.

Segera setelah saya merilis buku pertama yang merupakan antologi prosa berjudul Ja(t)uh di awal 2013, ada banyak pesan dari pembaca yang secara umum berbunyi: ‘ditunggu buku selanjutnya’. Saya senang bukan main sambutannya positif. Kurang lebih setahun kemudian, tepatnya Februari 2014 saya merilis Novel ‘Tuhan Maha Romantis’. Tak lama, pesan-pesan senada kembali ‘menghantui’ saya: ‘ditunggu buku selanjutnya’. Maka di Bulan September 2014 saya menjawab pesan-pesan itu dengan Novel ‘Seribu Wajah Ayah’.

Sampai dengan hari ini, setelah hampir satu tahun sejak lahirnya ‘Seribu Wajah Ayah’, pesan-pesan itu tak berhenti, bahkan semakin deras berdatangan. Bukan cuma lewat media sosial, melainkan juga di event-event bedah buku.

Baiklah, memang tidak ada yang salah dengan pesan itu. Saya pun mengamininya. Bahkan di cetakan terakhir Novel ‘Tuhan Maha Romantis’ sudah disertakan preview Buku ke-2 TMR yang berjudul ‘Konspirasi Semesta’. Tapi tahukah wahai sahabat-sahabat pembaca yang budiman? Sejujurnya ketika menyertakan preview itu Konspirasi Semesta masih berupa embrio. Pun sekarang. Rupanya tahun ini jadi tahun yang superpadat bagi saya sebab ada banyak hal yang harus dilakukan—yang tentu tidak bisa diceritakan semua di sini. Yang paling utama adalah merampungkan kuliah S1 saya yang telah tertunda hampir 2 tahun, sungguh prosesnya menyita banyak sekali waktu, keringat, dan air mata—oke ini berlebihan.

Maka saya mohon maaf harus mengumumkan bahwa Konspirasi Semesta, buku ke-2 Tuhan Maha Romantis harus ditunda dulu kelahirannya. Kalaupun bisa tahun ini, barangkali baru akan dirilis penghujung Bulan Desember. Tapi sementara anggap saja Konspirasi Semesta tidak jadi lahir tahun ini. Sebab ‘Expectation’ kata William Shakespears, ‘is the root of heartache.’

Di sisi lain, ada tumpukan tulisan di dalam dropbox saya yang meraung-raung minta dilahirkan. Materi buku yang Read the rest of this entry »

Ramadhan dan Kekanak-kanakan Kita

the_beauty_of_lebaran_by_jenengkudenny

Ketika kecil, saya dan teman-teman sepermainan sangat gembira tiap kali Ramadhan datang. Sebab itu artinya, kami akan makan enak (setidaknya di hari-hari pertama), bisa main petasan tiap subuh, ditambah akan ada libur sekolah, baju baru, aneka kue nastar, ketupat sayur, kumpul keluarga, dan tentu saja yang paling dinantikan: salam tempel. Lalu dari tempelan-tempelan salam itu kami akan membeli mainan baru, entah pistol-pistolan atau gamewatch. Meski kadang kami direpotkan dengan Buku Kegiatan Ramadhan yang wajib kami isi, Ramadhan tetap saja menggembirakan. Kehadirannya seperti punya kharisma tersendiri di mata lugu kami.

“Ramadhan itu bulan pembinaan kesabaran”, kata bapak di suatu subuh, “dan sabar, itu artinya tahan terhadap godaan dan teguh terhadap tujuan.”

“Shaum, itu punya dua arti. Dalam arti pasif adalah menahan lapar, haus, dan nafsu lainnya”, katanya lagi di hari yang lain, ”sementara dalam arti aktif adalah melaksanakan Shalat Malam: memasukkan Quran dari ke dalam dada. Siang melawan lapar dan haus, malam melawan kantuk.”

Begitulah. Sementara kami para anak-anak punya cara-cara sendiri dalam menyambut Ramadhan, bapak seperti terlalu serius menghadapinya. Beliau selalu punya nasihat-nasihat yang seringkali lebih mudah dilupakan daripada dipahami.

Apakah semua orang dewasa begitu? Kadang-kadang pertanyaan semacam itu berputar-putar di kepala. Sampai akhirnya, pada satu titik, setelah saya mulai belajar memaknai hidup secara lebih dewasa, setelah saya melalui belasan Ramadhan, entah bagaimana caranya saya menyadari betapa bodoh dan congkaknya saya sebab telah melewatkan momen-momen berharga itu dengan sia-sia.

Saya seperti menemukan jawaban dari pertanyaan itu: ternyata tak semua orang dewasa begitu. Tak semua orang dewasa serius dalam menjalani Bulan Ramadhan. Sebagian masih menghadapinya dengan kegembiraan anak-anak, bahwa Ramadhan adalah pertanda akan adanya liburan, tunjangan hari raya, makanan yang berlimpah, ditambah baju baru. Sempurna.

Alhamdulillah, kita bersyukur Ramadhan (bapak saya menyebutnya VIM, Very Important Month) telah datang untuk Read the rest of this entry »

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

IMG_20141102_181507

Perjumpaan perempuan yang pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Dan kamu yang batu. Atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak, tak bersuara, bahkan untuk sekedar berucap ‘aduh’, atau ‘tidak’. Kamu yang diam-diam berairmata. Menangis dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di Read the rest of this entry »

Manusia & Masa Depan yang Suci

past_by_erinbird-d6uk3t5

Pagi tadi, saya diundang berbagi cerita tentang pernikahan di sebuah acara yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok. Pada sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya. Ia punya sahabat dengan masa lalu yang buruk, katanya, yang kini merasa telah berada di lingkungan yang baik. Namun, katanya lagi, masa lalu itu terus menghantui, dan ia jadi minder dibuatnya. Perserta itu bertanya apa yang baiknya ia sampaikan kepada sahabatnya itu agar ia kembali ‘hidup’.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada sang sahabat, dan kalaupun saya tahu saya tidak yakin pengalaman hidup saya memadai untuk memberikan solusi atas permasalahannya. Maka saya menjawab sekenanya saja, dan di akhir kalimat saya hanya menjawab: …masa lalu memang tidak akan pergi ke mana-mana, kita yang harus beranjak pergi meninggalkannya. Hanya itu yang saya tahu. Hanya itu pelajaran tentang masa lalu yang bisa saya ambil dari umur pendek yang pernah saya jalani.

Ketika membuat tulisan ini saya tengah merenung, mengingat kembali pertanyaan itu. Saya memang tak mengerti persoalan spesifik yang dialami sang sahabat, tapi saya seperti bisa—lebih tepatnya pernah—merasakannya: penyesalan, rasa malu, juga rasa benci pada diri sendiri yang terus mendera.

Masa lalu yang tidak terlalu baik seringkali menelan rasa percaya diri kita dalam menghadapi hidup. Tiba-tiba saja dunia menjadi tempat yang gelap, dan kita mulai berhalusinasi tentang Read the rest of this entry »

Kemauan yang Tak Mau Sendirian

DSC_0357

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu. Maksudku, dua manusia pemalu—memangnya siapa aku memasang-masangkan aku dan kamu? Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat. Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan juga tak begitu saja luput. Ia terus ada mencipta gelisah, sementara tangan kita saling menggenggam dan mencoba untuk melawan semuanya: kita pasti bisa melewati ini.

Dulu, perasaanku adalah sebuah rahasia kecil, dan ketidakpedulianku atas setiap hal yang berkaitan dengan dirimu adalah sandiwara yang menyakitkan. Sampai akhirnya kita mencoba untuk saling bicara, bahwa memang ada cinta di sana yang telah lama menanti untuk kita rayakan—entah sejak kapan. Lalu kau tenggelam dalam pelukku, dan tanpa perlu bersuara, pesan itu sampai: bawa aku kemanapun kau mau.

Kini, telah sampai kita di sini. Mengucapkan selamat tinggal pada segala jenis ketakutan yang Read the rest of this entry »

Menghijaukan Hati di Taman Gurame

8

Setiap week-end, khususnya hari Minggu, jika memang nggak ada agenda ke luar kota saya dan Rista biasanya jalan-jalan. Sekedar jogging/badminton-an di Car Free Day Depok (di Boulvard Grand Depok City) atau ke tempat yang agak jauh seperti Kebun Raya Bogor. Kadang-kadang ke Mall juga sih kalau lagi ada perlu, yang jelas kami senang jalan-jalan. Sementara Rista suka tempat yang ramai, saya justru lebih nyaman di tempat-tempat yang sejuk dan tenang—selama ada yang jual makanan tentu saja.

Kebetulan sekali beberapa hari yang lalu saya sempat diundang mengisi sebuah acara di daerah Pancoran Mas, Depok. Panitia yang menghubungi memberikan patokan tempat acara: ‘di belakang Taman Gurame’. Awalnya, saya kira Taman Gurame itu semacam rumah makan yang menyediakan aneka olahan gurame, dan ternyata saya salah besar. Ketika sampai di tempat acara, dari luar saya melihat Taman Gurame ini semacam Taman Suropati, di sana ada beberapa keluarga jalan-jalan, atau sekedar duduk menikmati alam yang asri. Pada waktu itu baru sempat melihat dari jauh, sehingga ketika ke rumah saya membawa pulang rasa penasaran.

Pagi ini, kebetulan saya nggak ada agenda ke luar kota sehingga bisa jalan-jalan. Awalnya mau CFD-an saja, sampai tiba-tiba saya teringat kembali sama si Taman Gurame. Read the rest of this entry »

Mengelilingi Matahari 22 Kali

8

Hidup ini lucu. Begitu banyak hal menyenangkan yang membuat kita seperti ingin hidup selamanya, juga tak sedikit hal menyebalkan yang diam-diam membuat kita berharap tak pernah dilahirkan. Kadang jadi anugerah, kadang dirasa musibah. Kadang kita menjalaninya dengan senyum optimisme, kadang kita hanya ingin melewatkan semuanya—saat tiap detik terasa begitu menyiksa.

Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.

Tapi, untuk itukah kita dicipta?

Beberapa hari yang lalu, saya menggenapkan perjalanan mengelilingi matahari sebanyak 22 kali. Banyak, ya? Iya, banyak dan tak terasa. Entah bagaimana caranya hari ini saya sudah berada di titik ini—titik yang tak pernah saya duga, apalagi rencanakan. Ah, saya memang bukan perencana yang baik.

Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya merayakan cinta dengan seorang bidadari bernama Vidia Nuarista Annisa Read the rest of this entry »

Laut & Kebohongan-kebohongan

Wave_of_the_Future_by_gilad

Laut apa yang tengah kita arungi?

Selepas indahnya pantai, katanya, akan banyak ombak besar mengerikan. Mereka yang punya daya lebih dari cukup untuk menghantam dan memisah-misahkan—menjauhkan ragamu dari pelukku. Tapi itu katanya, bukan nyatanya. Sebab kata-kata memang tak selalu nyata. Sebagian besar dari mereka hanyalah bualan, atau, barangkali semacam ketakutan pribadi yang ingin ditularkan.

Mereka yang suka menularkan ketakutan, seperti seorang anak yang karena terlalu banyak menonton film horror, ketakutan saat melewati kuburan. Lalu ia mengarang-ngarang cerita tentang hantu gentayangan yang dibangun dari hasil imajinasinya sendiri untuk membuat teman-temannya ikut merasakan ketakutan itu. Agar ia tak sendiri. Dan tentu bisa kita Read the rest of this entry »

Subuh & Daun yang Basah

IMG_20141211_173822

Pada suatu subuh saat daun masih basah, kuhirup udara di bawah remang lampu jalan. Itulah detik yang menenangkan: ketika aku melepas rindu yang kuikat semalaman bersama mata yang terpejam. Lalu hanyut aku dalam sujud-sujud kemenangan, bahwa berbagai rayuan telah mampu kukalahkan. Tanpa parang, tanpa pedang.

Belum habis subuh berjalan, senyummu terbit melangkahi matahari. Bibirmu mekar mendahului Read the rest of this entry »

Kebohongan yang Membahagiakan

For a second, I was in control
I had it once, I lost it though
And all along the fire below would rise*

Seringkali kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi: apa yang berputar-putar dalam kepalaku dan apa yang bergemuruh di dalam hatimu. Hanya ada sesuatu yang lain—semacam kehausan yang mendera tenggorokan kita. Dan aku gagap dibuatnya. Sementara kau bisu menahan kata. Keheningan jadi singgasana kita: aku raja dan kau ratunya.

 And I wish you could have let me know
What’s really going on below
I’ve lost you now, you let met go but one last time*

Kau tahu, cinta adalah mata air sementara keraguan adalah sumbatan-sumbatan yang membuatnya tak mengalir. Maka yakinkan dirimu dan biarkan aku tahu apa yang kau rasakan. Yakinkan dirimu dan biarkan aku mendengar apa yang ingin kau ucapkan. Sebab keterdiaman telah membuatku bosan, meski rindu tak jadi layu karenanya.

Tell me you love me, if you don’t then lie, oh lie to me*

Berhentilah membisu dan katakan sesuatu.

Katakan bahwa adalah cinta yang bergemuruh di dalam hatimu. Meski sesungguhnya tak seperti itu. Aku terlanjur tertipu Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 10,121 other followers

%d bloggers like this: