Merapikan Kenangan

Kumpulan Surat yang 'Tak Pernah Sampai

Kita dan Kekerenan

indahhh

Seringkali kita terlalu berlebihan mengagumi orang dengan keunggulan tertentu, lantas menjadi rendah diri karenanya. Kita merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Atas nama ketakberdayaan itu kita menyerah: kita mundur teratur karena merasa tak layak bersanding dengan orang-orang yang kita anggap keren itu, bahkan sekedar bermimpi untuk menjadi seperti mereka.

Padahal Allah manganugerahkan setiap manusia potensi yang luar biasa, meski tentu saja tak seragam. Kita lihat dalam penciptaan hewan saja, Allah menganugerahi ikan kemampuan untuk berenang, dan kemampuan memanjat untuk kera. Potensi kera adalah memanjat, sehingga ketika ia berenang sekalipun tak kan mampu sekeren ikan. Sementara memanjat terlalu mustahil bagi ikan, karena ia memang tidak diciptakan untuk itu—potensinya bukan dalam urusan memanjat. Ikan keren dengan kemampuan berenangnya, kera keren dengan kemampuan memanjatnya.

Hanya karena seseorang terlihat keren karena menjadi sesuatu, bukan berarti kita harus menjadi sesuatu itu untuk menjadi keren.

Barangkali kita juga perlu sesekali menikmati indahnya bunga-bungaan. Masing-masing selalu mampu tampil indah dengan warnanya—dengan caranya.

Apa warnamu? Apa caramu? Kekerenan apa yang akan kamu buat? :)

Cinta adalah Perlawanan

IMG_20140917_112954

Cinta adalah pertahanan kita. Yang utama, pertama, sekaligus yang terakhir. Ia menunggalkan yang jamak, mencipta harmoni dari warna yang tak cuma satu. Tanpanya, hanya ada aku, kamu, dia, dan dunia yang penuh luka. Tanpa cinta, neraka berujud sebelum dunia sirna.

Merayakan cinta bersamamu adalah mendaki bersama untuk kemudian mengibarkan sebuah bendera kemenangan di puncak. Barangkali kita akan meneteskan keringat yang tak sedikit, juga sesekali tak sengaja menginjak duri yang buat kita rasakan sakit. Tapi, tetap saja pendakian bersama lebih membanggakan daripada perjumpaan di puncak dengan bendera Read the rest of this entry »

Biarkan Waktu Kesepian

mini IMG_20140925_191703

Tentang waktu, kadang kita terlalu rendah hati untuk bernegosiasi dengannya. Kita pasrahkan semua padanya, seolah kita tak bisa apa-apa. Lantas dengan nada sok bijak kita berkata: ‘biar waktu yang menjawab.’

Padahal waktu bisu, tak bisa berucap apa-apa, apalagi mendekatkan dua manusia.

Menjadikan waktu sebagai tuan adalah menyerahkan diri untuk habis dicincang. Sebab waktu adalah pedang yang tajam. Read the rest of this entry »

Cinta adalah Cahaya

father_love__by_bobbytnr-d3crweo

My bounty is as boundless as the sea.
My love as deep,
the more I give to thee,
the more I have, 
for both are infinite. 
William ShakespeareRomeo and Juliet

Kau pernah mendengar kisah klasik ‘Romeo and Juliet’ karya William Shakepears? Kisah—yang katanya—tentang cinta sejati yang dibawa sampai mati. Bagi mereka, cinta sejati adalah hidup bahagia berdua di tengah waarna-warni taman bunga atau mati saja. ‘Jika keindahan cinta tak bisa kita jangkau, maka kita buat saja segalanya jadi tak terjangkau’, begitu barangkali pikir Romeo dan Juliet.

Atau kau pernah mendengar legenda ‘Laila Majnun’? Cerita tentang ketakberdayaan sang Qais dalam menggapai perempuan yang siang-malam begitu ia dambakan. Bagi Qais cinta adalah memiliki, maka badai kesedihan melanda ketika sang pujaan hati tak kunjung datang ke dalam pelukannya. Pada akhir kisahnya, Qais sang Majnun mati dalam kesedihan di atas makam Sang Layla.

Tidakkah hatimu tergerak untuk menyimpulkan bahwa berdasar kisah-kisah tersebut, cinta seperti tak punya jarak dengan kebodohan? Apakah memang begitu?

Adalah ‘The Sorrows of Young Werther’, novel karya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) pada tahun 1774 yang Read the rest of this entry »

Untuk Perempuan di Balik Senyuman

1609717_274775452723232_5509855345309540495_n

Kita bukan sepasang kekasih yang mengisi seluruh waktu bersama dengan saling memuji dan mengagumi. Kita juga bukan sepasang kekasih yang selalu bisa habiskan waktu dengan menyenangkan karena punya hobby yang sama. Ya, kadang kita saling membenci. Aku membenci sikap diam dan perhatianmu yang berlebihan pada hal-hal kecil. Dan kau, barangkali begitu mengutuki sifat emosionalku yang seringkali meledak-ledak tak terkendali, atau, sikap dinginku yang selalu sukses menularkan kebekuan di antara kita.

Ah, barangkali aku memang bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup kita yang tak selalu berjalan baik. Kadang jiwa kita tenang tentram, kadang kita menjalani malam-malam yang penuh kekhawatiran. Kadang kita bisa makan apa saja yang Read the rest of this entry »

Rijal Rafsanjani vs Annisa Larasaty

tmrr

Ini salah satu kutipan dalam Novel ‘Tuhan Maha Romantis’. Ceritanya Rijal Rafsanjani & Annisa Larasaty masing-masing diminta untuk menginterpretasikan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, saat perasaan keduanya…. ah sudahlah. Ada yang suka puisi ini, seperti saya? :)

———–

Rijal Rafsanjani

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu 1

Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat Read the rest of this entry »

10 Foto Terbaik #MomenBarengAyah

Instagram 10 terbaik

Alhamdulillah, semenjak Kuis Foto #MomenBarengAyah dimulai (1 Agustus) sampai ditutup (tanggal 7) Agustus, ada hampir 300 foto yang masuk. ‘Semua foto keren!’, itu yang membuat kami kesulitan memilih 10 terbaik. Tapi kami harus memilih, dan tentu saja dengan subjektif—meski kami telah menetapkan kriterianya.

Jujur saja, awalnya, kami hanya berencana menggunakan foto-foto terbaik untuk melengkapi kover belakang ‘Seribu Wajah Ayah’. Namun melihat antusiasme dan kerennya foto-foto yang masuk, kami mengubah rencana: kami akan memasukkan semuanya ke dalam novel. Bagaimana caranya? Lihat saja langsung nanti di novelnya. :)

Berikut 10 Foto Terbaik #MomenBarengAyah Read the rest of this entry »

Ketakutan

Fear_by_seppe1234

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita membuka kunci layar telepon genggam kita, sudah banyak notifikasi di sana. ‘You have a new tweets’, ‘3 new invites’, ‘Nani Wijaya likes your photo’, ‘memory usages is over 85%’, ‘you have 8 conversations 54 messages’, ‘Andi Budiman mengajak anda berteman’. Ah, siapa pula Andi Budiman! Mengapa pula dia mengajak berteman!

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita menghidupkan televisi: ada seorang perempuan dengan blues biru  berambut cokelat sedang membacakan berita politik dengan nada sok serius, sekelompok orang dengan wajah itu-itu saja membawakan lawakan yang tidak lucu, talkshow-talkshow yang dibuat semenarik mungkin padahal tak berguna, acara musik stereotipikal cuci-jemur-cuci-jemur yang tidak ada habisnya, sinetron serigala jadi-jadian yang sedang digandrungi para remaja—dan didukung penuh oleh ibunya, Marshanda yang tak lagi memakai jilbab, Syahrini jalan-jalan ke Italy, Cak Lontong dicomblangkan dengan Desy Ratnasari yang sudah bersuami. Oh ya, tak ketinggalan catatan hati mahadramatis seorang istri favorit ibu-ibu dan masih banyak lagi.

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita bekerja untuk hidup, hidup untuk bekerja. Akhir pekan kita tidur seharian di rumah atau pergi ke mall—melihat apa lagi Read the rest of this entry »

Membebaskan

Bird_by_KatMad

Seekor burung dikurung dalam kandang, diberi makan sehari tiga kali. Tak pernah kelaparan barang sehari sebab majikannya begitu murah hati—semua yang mengenalnya tahu ia pecinta burung. Kandangnya mewah, bersih, dicuci setiap hari. Bila ada award untuk burung yang hidupnya paling berkecukupan, tentu ialah pemenangnya.

Semua keinginannya sanggup terpenuhi di sana kecuali satu hal: terbang dengan bebas. Maka hidupnya jadi tak bahagia.

Apakah memelihara harus selalu dengan mengurung?
Apakah mencintai sama dengan mengekang?

Tanya sang burung setiap hari dengan bahasa kicaunya. Tapi nampaknya percuma, sebab sang majikan bukan hanya tak mampu menjawab pertanyaannya, mengerti bahasanya pun tidak.

Bagaimana caranya tuan mencintai tanpa mengerti?

Kicaunya suatu hari dengan nada frustasi. Dan sang majikan hanya menatapnya sambil tersenyum—ia tetap tak mengerti.

*

Tantangan para pecinta sejak dulu selalu begitu. Ia harus memiliki kemampuan untuk Read the rest of this entry »

Episode 1 : Malapetaka

Azhar Nurun Ala:

Adik saya, Azka Nurun Ala, mulai memberanikan diri mem-publish tulisan-tulisannya. Alhamdulillah. :)

Originally posted on NEGERI ANTAH BERANTAH:

and_where_the_day_was__the_likeness_of_the_night_by_inextremiss-d7ratlg

Watanabe Akiyama dan Ryouko Koto, dua sobat kental sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ini menempati sebuah rumah kontrakan kecil di Distrik Konami. Sejak lulus SMP, mereka telah meninggalkan kota kelahiran tercinta demi mengenyam pendidikan di SMA terbaik di seluruh negeri Antah Berantah . Tingkat kecerdasan mereka yang di atas rata-rata anak seusia mereka dan restu dari sang Pemilik Semesta menghantarkan mereka menjadi dua dari sedikit siswa yang berhasil memperoleh tiket beasiswa di SMA Nara.

Pagi ini, pagi di hari minggu yang tidak seperti biasanya. Suasana minggu pagi yang biasanya cerah ceria, kini mendung seakan langit dirundung duka. Matahari yang di hari biasanya selalu agresif menantang semesta dengan penuh kecongkakan  kini tampak tersipu malu, enggan menampakkan dirinya dan memilih untuk bersembunyi di balik keangkuhan sang awan. Burung-burung memainkan orchestra alam dengan ala kadarnya, tampak tidak bersemangat dan asal-asalan. Tiada yang menyangka dan mampu membaca pertanda alam. Entah kebetulan atau bukan…

View original 1,224 more words

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,354 other followers

%d bloggers like this: