Merapikan Kenangan

Kumpulan Surat yang 'Tak Pernah Sampai

Mula Sebuah Tulisan

Processed with VSCOcam with b5 preset

“Halo, apa kabar?”

Terus terang kalimat tanya sekaligus sapaan ini tidak sepenuhnya saya tujukan kepada para pembaca—baik yang secara rutin membaca blog ini (jika ada) maupun yang nyasar sampai entah bagaimana caranya tiba di halaman ini, melainkan juga penulis. Ya, saya juga ingin menanyakan kabar diri saya sendiri, di tengah tumpukan kewajiban yang—meski sama sekali tak menyenangkan—mesti ditunaikan dan aktivitas yang meski mengasyikkan tetap saja menguras tenaga dan pikiran. Saya membuat tulisan ini di atas Kereta Bima yang bergoyang-goyang, dalam perjalanan menuju Purwokerto dalam rangka Bedah Buku ‘Tuhan Maha Romantis’.

Sungguh ingin sekali saya sampaikan bahwa pada mulanya, sejak berangkat dari rumah saya sudah membuat sebuah rencana: saya akan membunuh waktu di dalam kereta ini dengan melahap sebuah buku tentang kepenulisan. Naasnya, baru beberapa halaman saya baca, layar TV yang letaknya tak terlalu jauh dengan tempat saya duduk menanyangkan sebuah film yang dibintangi oleh Bruce Willis. Terjadilah pertempuran hati dan… seperti telah saya duga, Bruce Willis keluar sebagai pemenang—saya menutup buku, berhenti membaca.

Kurang lebih satu jam setengah kemudian film tersebut berakhir, dengan ending yang sudah saya ketahui karena sebelumnya sudah pernah saya saksikan.

Film usai, layar TV berganti dengan acara yang tidak lagi menarik, sementara nafsu membaca saya sudah terlanjur reda. Akhirnya, beberapa menit yang lalu saya putuskan saja untuk membuka laptop dan menulis.

*

Kadang dalam kondisi semacam itulah sebuah tulisan bermula.

Pada saat-saat tertentu saya terpikir sebuah ide di kepala, mencatatnya di notes smartphone, lalu dengan tak sabar membuka laptop untuk segera menuangkannya ke dalam beberapa paragraf tulisan. Pada saat yang lain, saya hanya berpikir ingin menulis saja tanpa rencana atau gambaran tentang apa yang akan saya tulis. Saya hanya ingin menulis—apapun itu. Ini lah saat-saat di mana saya harus ‘head to head’ dengan selembar halaman putih yang kosong. Duel yang tak pernah mudah untuk dimenangkan.

Keadaan semacam itu hampir selalu berhasil membuat saya merasa tak percaya diri dan berpikir saya tak cukup kuat untuk melawannya. Bahkan untuk menatapnya pun saya ragu.

Untungnya, setiap hal itu terjadi, saya selalu ingat sebuah jurus yang diajarkan oleh Dee:

“Mulailah dari apa yang kita tahu, kita rasa dan kita lihat.” Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 4)

AAAAAA

Beberapa hari setelah saya memutuskan untuk menerbitkan buku secara self-publishing, ada salah satu editor dari penerbit nasional yang menghubungi saya. Beliau menyampaikan ketertarikannya terhadap tulisan-tulisan saya dan menawarkan saya untuk menulis buku untuk kemudian diterbitkan lewat penerbitnya. Saya yang waktu itu hanya punya draft buku Ja(t)uh (antologi prosa pertama saya) lantas mengirimkan saja draft itu. Seperti telah saya duga, pihak penerbit merasa tulisan saya terlalu random, baik dari tema maupun bentuk tulisan. Saya pun kembali pada rencana awal: self-publishing.

Hal yang saya cari tahu pertama kali adalah tentang urusan percetakan, terutama tentang kualitas dan biaya cetak. Untuk pembuatan kover, saya punya sahabat di Bandung yang ahli dalam urusan desain. Soal editing, saya punya sahabat juga mahasiswa Sastra Indonesia UI yang tentu saja sudah banyak belajar tentang penyuntingan. Saya kira tantangan terbesar saya waktu itu adalah bagaimana menutup biaya cetak yang tidak sedikit.

Dari hasil beberapa kali pembicaraan saya dengan tim (kami menyebutnya tim azharologia), bulat sudah tekad kami: cetakan pertama kami akan mencetak 500 eksemplar buku Ja(t)uh. Satu-satunya alasan rasional kenekatan kami itu adalah statistik pengunjung blog yang berkisar antara 500-800 views setiap harinya. Tentu saja keputusan itu diambil dengan rasa khawatir yang tidak juga kecil. Biaya cetak 500 eksemplar dengan kualitas buku sekelas penerbit nasional waktu itu hampir mencapai 10,000,000. Bahkan saya tidak pernah punya uang pribadi sebanyak itu.

Bagaimana menutup biaya itu? Kami memutar otak, merumuskan strategi dan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 3)

9

Saya membuat blog, dan atas nama kelabilan yang sedang saya alami ketika itu saya berpindah-pindah alamat hingga akhirnya saya menemukan nama dan penyedia yang sreg di hati: azharologia.wordpress.com (yang sejak peluncuran buku pertama dipersingkat jadi azharologia.com). Saya mengisi blog saya dengan apa saja, tapi diusahakan serutin mungkin. Saya mengamalkan apa yang disampaikan oleh Dee dalam salah satu wawancara tentang kepenulisan: ‘mulailah dari apa yang kita tahu, kita lihat, kita rasa’. Sampai hari ini kalimat itu menjadi semacam mantra ketika saya kehabisen ide untuk menulis.

Bukankah kita selalu punya pengalaman dan perasaan? Setidaknya dari dua hal itulah kita bisa mulai menulis.

Saya juga beberapa kali mengikuti perlombaan menulis, dan dari sekian perlombaan itu hanya satu yang bisa saya menangkan: Lomba Menulis Surat untuk Dewi Lestari yang diadakan oleh Mizan. Hadiahnya? Paket buku Dewi Lestari. Bukan main betapa senangnya saya waktu itu. Dari berbagai perlombaan itu saya belajar bahwa begitu terasa perbedaannya, tulisan yang kita tulis karena kita harus menulisnya dengan tulisan yang kita tulis karena kita memang ingin menulisnya. Bahwa apa Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 2)

Dee

Adalah seorang senior yang waktu itu dengan bijaknya berkata, ‘ada dua hal yang membedakan kita hari ini dengan kita bertahun-tahun mendatang: buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui’. Ketika mendengarnya, saya mencerna kalimat itu dengan hati-hati, lantas mengamati sekitar. Rupanya mahasiswa-mahasiswa senior yang ketika itu saya anggap keren, mereka punya dua kebiasaan itu: membaca buku dan bertemu dengan banyak orang.

Saya yang tidak ingin di situ-situ saja ketika itu bertekad untuk mengamalkan perkataan senior tersebut. Tapi rupanya bukan hal yang mudah. Untuk bertemu banyak orang, saya mengikuti organisasi yang ada di kampus, dan secara otomatis—mau tidak mau—saya bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru. Tapi untuk rutin membaca buku? Rupanya lain perkara. Terutama karena yang saya butuhkan waktu itu adalah motivasi internal yang tentu saja seringkali kalah oleh hal yang lebih asyik seperti menonton film atau tidur.

Saya pun bertanya pada seorang senior yang dinding kamarnya penuh dengan buku dan kelihatannya hampir semua sudah tuntas dibaca, tentang bagaimana membiasakan diri membaca buku. Apa nasihatnya? ‘Mulailah membaca hal-hal yang kita suka. Kalau kita sukanya komik, baca komik saja dulu, nanti baru mulai coba-coba buku lain.’ Saya mengangguk dalam hati. Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 1)

IMG_20141113_074702

Akhir-akhir ini, hampir setiap week-end saya habiskan di luar kota untuk menjadi pembicara, baik dalam acara bedah buku maupun talkshow tentang motivasi dan kepenulisan. Hampir di setiap acara yang saya isi selalu ada pertanyaan—baik dari moderator maupun peserta—‘Apakah Mas Azhar sejak kecil sudah suka menulis? Apakah menjadi penulis adalah cita-cita Bang Azhar sejak kecil?’, dan ‘apakah’-‘apakah’ lainnya yang senada. Saya ingin mencoba menuliskan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu di sini, karena talkshow atau bedah buku tak pernah cukup untuk menjelaskan bagaimana akhirnya saya kini berada dalam dunia kepenulisan ini.

Terus terang, saya lahir dari latar belakang keluarga yang tidak memungkinkan saya bahkan untuk sekedar membayangkan bagaimana menjadi seorang penulis, terlebih menjadikannya sebagai profesi. Saya lahir di daerah Lampung Tengah, di sebuah desa yang bahkan sampai saya SMP belum tersentuh listrik. Saya jarang bersentuhan dengan buku, terlebih buku fiksi. Satu-satunya jenis buku yang berlimpah di rumah saya adalah ‘Panduan Menanam Cabai’, ‘Memeberantas Hama Wereng’, dan sejenisnya karena waktu itu kakak saya adalah mahasiswa pertanian di Universitas Lampung. Bahkan, setika SMP hanya tahu segelintir penulis fiksi yang kebetulan dibahas dalam pelajaran Read the rest of this entry »

Kita dan Kekerenan

indahhh

Seringkali kita terlalu berlebihan mengagumi orang dengan keunggulan tertentu, lantas menjadi rendah diri karenanya. Kita merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Atas nama ketakberdayaan itu kita menyerah: kita mundur teratur karena merasa tak layak bersanding dengan orang-orang yang kita anggap keren itu, bahkan sekedar bermimpi untuk menjadi seperti mereka.

Padahal Allah manganugerahkan setiap manusia potensi yang luar biasa, meski tentu saja tak seragam. Kita lihat dalam penciptaan hewan saja, Allah menganugerahi ikan kemampuan untuk berenang, dan kemampuan memanjat untuk kera. Potensi kera adalah memanjat, sehingga ketika ia berenang sekalipun tak kan mampu sekeren ikan. Sementara Read the rest of this entry »

Cinta adalah Perlawanan

 

Processed with VSCOcam

Cinta adalah pertahanan kita. Yang utama, pertama, sekaligus yang terakhir. Ia menunggalkan yang jamak, mencipta harmoni dari warna yang tak cuma satu. Tanpanya, hanya ada aku, kamu, dia, dan dunia yang penuh luka. Tanpa cinta, neraka berujud sebelum dunia sirna.

Merayakan cinta bersamamu adalah mendaki bersama untuk kemudian mengibarkan sebuah bendera kemenangan di puncak. Barangkali kita akan meneteskan keringat yang tak sedikit, juga sesekali tak sengaja menginjak duri yang buat kita rasakan sakit. Tapi, tetap saja pendakian bersama lebih membanggakan daripada perjumpaan di puncak dengan bendera Read the rest of this entry »

Biarkan Waktu Kesepian

mini IMG_20140925_191703

Tentang waktu, kadang kita terlalu rendah hati untuk bernegosiasi dengannya. Kita pasrahkan semua padanya, seolah kita tak bisa apa-apa. Lantas dengan nada sok bijak kita berkata: ‘biar waktu yang menjawab.’

Padahal waktu bisu, tak bisa berucap apa-apa, apalagi mendekatkan dua manusia.

Menjadikan waktu sebagai tuan adalah menyerahkan diri untuk habis dicincang. Sebab waktu adalah pedang yang tajam. Read the rest of this entry »

Cinta adalah Cahaya

father_love__by_bobbytnr-d3crweo

My bounty is as boundless as the sea.
My love as deep,
the more I give to thee,
the more I have, 
for both are infinite. 
William ShakespeareRomeo and Juliet

Kau pernah mendengar kisah klasik ‘Romeo and Juliet’ karya William Shakepears? Kisah—yang katanya—tentang cinta sejati yang dibawa sampai mati. Bagi mereka, cinta sejati adalah hidup bahagia berdua di tengah waarna-warni taman bunga atau mati saja. ‘Jika keindahan cinta tak bisa kita jangkau, maka kita buat saja segalanya jadi tak terjangkau’, begitu barangkali pikir Romeo dan Juliet.

Atau kau pernah mendengar legenda ‘Laila Majnun’? Cerita tentang ketakberdayaan sang Qais dalam menggapai perempuan yang siang-malam begitu ia dambakan. Bagi Qais cinta adalah memiliki, maka badai kesedihan melanda ketika sang pujaan hati tak kunjung datang ke dalam pelukannya. Pada akhir kisahnya, Qais sang Majnun mati dalam kesedihan di atas makam Sang Layla.

Tidakkah hatimu tergerak untuk menyimpulkan bahwa berdasar kisah-kisah tersebut, cinta seperti tak punya jarak dengan kebodohan? Apakah memang begitu?

Adalah ‘The Sorrows of Young Werther’, novel karya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) pada tahun 1774 yang Read the rest of this entry »

Untuk Perempuan di Balik Senyuman

blog

Kita bukan sepasang kekasih yang mengisi seluruh waktu bersama dengan saling memuji dan mengagumi. Kita juga bukan sepasang kekasih yang selalu bisa habiskan waktu dengan menyenangkan karena punya hobby yang sama. Ya, kadang kita saling membenci. Aku membenci sikap diam dan perhatianmu yang berlebihan pada hal-hal kecil. Dan kau, barangkali begitu mengutuki sifat emosionalku yang seringkali meledak-ledak tak terkendali, atau, sikap dinginku yang selalu sukses menularkan kebekuan di antara kita.

Ah, barangkali aku memang bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup kita yang tak selalu berjalan baik. Kadang jiwa kita tenang tentram, kadang kita menjalani malam-malam yang penuh kekhawatiran. Kadang kita bisa makan apa saja yang Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,773 other followers

%d bloggers like this: