Merapikan Kenangan

Menulis adalah Merapikan Kenangan

Laut & Kebohongan-kebohongan

Wave_of_the_Future_by_gilad

Laut apa yang tengah kita arungi?

Selepas indahnya pantai, katanya, akan banyak ombak besar mengerikan. Mereka yang punya daya lebih dari cukup untuk menghantam dan memisah-misahkan—menjauhkan ragamu dari pelukku. Tapi itu katanya, bukan nyatanya. Sebab kata-kata memang tak selalu nyata. Sebagian besar dari mereka hanyalah bualan, atau, barangkali semacam ketakutan pribadi yang ingin ditularkan.

Mereka yang suka menularkan ketakutan, seperti seorang anak yang karena terlalu banyak menonton film horror, ketakutan saat melewati kuburan. Lalu ia mengarang-ngarang cerita tentang hantu gentayangan yang dibangun dari hasil imajinasinya sendiri untuk membuat teman-temannya ikut merasakan ketakutan itu. Agar ia tak sendiri. Dan tentu bisa kita Read the rest of this entry »

Subuh & Daun yang Basah

IMG_20141211_173822

Pada suatu subuh saat daun masih basah, kuhirup udara di bawah remang lampu jalan. Itulah detik yang menenangkan: ketika aku melepas rindu yang kuikat semalaman bersama mata yang terpejam. Lalu hanyut aku dalam sujud-sujud kemenangan, bahwa berbagai rayuan telah mampu kukalahkan. Tanpa parang, tanpa pedang.

Belum habis subuh berjalan, senyummu terbit melangkahi matahari. Bibirmu mekar mendahului Read the rest of this entry »

Kebohongan yang Membahagiakan

For a second, I was in control
I had it once, I lost it though
And all along the fire below would rise*

Seringkali kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi: apa yang berputar-putar dalam kepalaku dan apa yang bergemuruh di dalam hatimu. Hanya ada sesuatu yang lain—semacam kehausan yang mendera tenggorokan kita. Dan aku gagap dibuatnya. Sementara kau bisu menahan kata. Keheningan jadi singgasana kita: aku raja dan kau ratunya.

 And I wish you could have let me know
What’s really going on below
I’ve lost you now, you let met go but one last time*

Kau tahu, cinta adalah mata air sementara keraguan adalah sumbatan-sumbatan yang membuatnya tak mengalir. Maka yakinkan dirimu dan biarkan aku tahu apa yang kau rasakan. Yakinkan dirimu dan biarkan aku mendengar apa yang ingin kau ucapkan. Sebab keterdiaman telah membuatku bosan, meski rindu tak jadi layu karenanya.

Tell me you love me, if you don’t then lie, oh lie to me*

Berhentilah membisu dan katakan sesuatu.

Katakan bahwa adalah cinta yang bergemuruh di dalam hatimu. Meski sesungguhnya tak seperti itu. Aku terlanjur tertipu Read the rest of this entry »

Anak Tangga

ladder_back_by_cucat-d2zg3zi

Bagaimana cara membuang jauh-jauh berbagai bentuk kekhawatiran yang semakin hari semakin tinggi kadarnya?

Bagaimana mengusir berbagai jenis ketakutan akan masa depan yang terus menggerus prinsip hidup—yang diam-diam mulai kita ragukan?

Bagaimana melepas kecintaan kita pada materi yang begitu berlebihan sampai-sampai membuat kita lupa pada makna?

Entahlah.

Tapi,

Read the rest of this entry »

Meninggalkan Masa Lalu

other_visions__by_m0thyyku

Sebagian manusia hidup dalam masa lalunya, pura-pura nyaman hidup dalam angan-angan yang sudah jadi kenangan.  Tangannya yang layu mendekap tubuhnya sendiri. Kakinya melangkah, tapi kepalanya terus menoleh ke belakang, berjibaku melawan waktu yang terus berjalan ke depan. Tanpa ampun. Tanpa pengertian sedikitpun.

“Gelap akan berganti terang, terang akan disusul gelap. Apa bedanya?”, katanya suatu hari. “Kalau kehidupan manusia selalu berputar dan sejarah berulang, apa bedanya masa lalu dan hari ini? Bukankah itu artinya masa depan adalah masa lalu juga sebenarnya?”

Barangkali kehidupan memang berputar. Boleh jadi sejarah memang berulang. Tapi dunia ini punya akhir. Kehidupan punya Read the rest of this entry »

Kepastian yang Menjemukan

blog

Dulu kau selalu bilang, kau benci ketidakpastian. Kukira, manusia kebanyakan memang begitu, utamanya perempuan. Ketidakpastian itu mencemaskan, kadang melalaikan, kadang membuat kita terburu-buru. Ketidakpastian telah menjadi semacam kekhawatiran abadi yang membuat manusia begitu ketakutan, seolah tak punya tempat perlindungan.

Berjalan lurus ke depan dengan beberapa tanjakan ringan yang sudah kita hafal memang lebih menenangkan daripada menembus hutan, menyeberangi sungai, mendaki gunung, atau mengarungi apa saja yang menantang untuk diarungi sambil mengira-ngira apa yang akan terjadi. Meski sebenarnya kita tahu jalan yang biasa-biasa saja tak ‘kan pernah mengantar kita ke puncak gunung untuk bisa menatap awan sambil menunduk.

Kini kau di sini, hidup berdampingan dengan manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Kupikir kau akan membenciku, tapi hangat dan tulusnya senyummu berkata lain. Ia mengungkap satu pemahaman baru yang lahir dari cinta dan Read the rest of this entry »

Membicarakan Masa Depan

IMG_20140920_000305

Jurusan apa yang akan kita ambil? Di perusahaan mana kita akan bekerja? Rumah tipe berapa yang akan kita huni? Mobil macam apa yang akan kita beli? APV, Camry, Mercy?

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, barangkali pertanyaan-pertanyaan itu sudah tak lagi asing, bahkan barangkali begitu sering hadir di kepala kita.

Demi masa depan yang cerah, kita melakukan segalanya. Tentu saja, karena tiap-tiap kita ingin tenang hidupnya. Tiap-tiap kita ingin menjalani hidup dengan bahagia.

Atas nama ‘masa depan yang cerah’, kita semua berlomba. Berkejar-kejaran dengan waktu, menuntaskan segala macam targetan yang menjadi syarat agar masa depan kita bisa dimasukkan ke dalam kategori ‘cerah’. Bukan suram apalagi gelap.

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, seringkali kita mendadak menjadi perencana Read the rest of this entry »

Mengganti Cita-cita

sf

“Apa yang harus kita lakukan kalau jurusan yang sedang kita ambil ternyata tidak sesuai dengan cita-cita kita? Bagaimana kalau kita menetapkan cita-cita kita yang sesungguhnya belakangan setelah terlanjur memilih jurusan?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap saya temui dalam sesi-sesi sharing, terutama di acara-acara kampus yang pesertanya sudah tentu hampir semua mahasiswa. Barangkali kita juga pernah mengalami kegalauan semacam ini, ketika apa-apa yang sedang kita jalani tak pernah benar-benar kita nikmati. Ketika keindahan-keindahan yang kita impikan—atas nama masa depan—tergilas oleh beragam tuntutan yang lebih sering membuat kita kehilangan keseimbangan. Jadilah kita oleng, lantas terombang-ambing ke sana ke mari diseret-seret oleh tren yang tak lain dan tak bukan dibuat-buat manusia.

Pertanyaan tentang cita-cita, passion, dan sejenisnya memang akan selalu ada karena manusia dan zaman berubah. Sehingga upaya untuk mengenal diri dan lingkungan sejatinya adalah upaya yang tak punya akhir. Jadi bersyukurlah mereka yang hidupnya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, bersyukurlah mereka yang tak pernah berhenti mencari.

Tentang cita-cita, saya menyisipkan pandangan saya lewat beberapa paragraf tulisan di dalam buku ‘Seribu Wajah Ayah’. Berikut saya hadirkan dalam postingan ini, semoga bisa jadi bahan diskusi dan renungan.

……………

Mengganti cita-cita karena kita sadar kita tak pernah menginginkannya, barangkali tak termasuk sebuah kepengecutan. Justru, boleh jadi, bertahan pada cita-cita yang tak sesuai dengan suara hatilah yang merupakan kepecundangan. Kita tak dewasa untuk mendengarkan nurani kita sendiri. Tak berani menapaki jalan yang kita percaya hanya karena takut pada orang-orang di sekeliling kita yang sudah terlalu mahir mencela yang-berbeda karena dilatih setiap hari.

“Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani,” kata Rhenald Kasali, “putar arah sekarang juga.”

Kalau di sebuah tempat ada dua buah jalan—katakanlah jalur satu dan jalur dua—dan kebanyakan orang berjalan di jalur Read the rest of this entry »

Mula Sebuah Tulisan

Processed with VSCOcam with b5 preset

“Halo, apa kabar?”

Terus terang kalimat tanya sekaligus sapaan ini tidak sepenuhnya saya tujukan kepada para pembaca—baik yang secara rutin membaca blog ini (jika ada) maupun yang nyasar sampai entah bagaimana caranya tiba di halaman ini, melainkan juga penulis. Ya, saya juga ingin menanyakan kabar diri saya sendiri, di tengah tumpukan kewajiban yang—meski sama sekali tak menyenangkan—mesti ditunaikan dan aktivitas yang meski mengasyikkan tetap saja menguras tenaga dan pikiran. Saya membuat tulisan ini di atas Kereta Bima yang bergoyang-goyang, dalam perjalanan menuju Purwokerto dalam rangka Bedah Buku ‘Tuhan Maha Romantis’.

Sungguh ingin sekali saya sampaikan bahwa pada mulanya, sejak berangkat dari rumah saya sudah membuat sebuah rencana: saya akan membunuh waktu di dalam kereta ini dengan melahap sebuah buku tentang kepenulisan. Naasnya, baru beberapa halaman saya baca, layar TV yang letaknya tak terlalu jauh dengan tempat saya duduk menanyangkan sebuah film yang dibintangi oleh Bruce Willis. Terjadilah pertempuran hati dan… seperti telah saya duga, Bruce Willis keluar sebagai pemenang—saya menutup buku, berhenti membaca.

Kurang lebih satu jam setengah kemudian film tersebut berakhir, dengan ending yang sudah saya ketahui karena sebelumnya sudah pernah saya saksikan.

Film usai, layar TV berganti dengan acara yang tidak lagi menarik, sementara nafsu membaca saya sudah terlanjur reda. Akhirnya, beberapa menit yang lalu saya putuskan saja untuk membuka laptop dan menulis.

*

Kadang dalam kondisi semacam itulah sebuah tulisan bermula.

Pada saat-saat tertentu saya terpikir sebuah ide di kepala, mencatatnya di notes smartphone, lalu dengan tak sabar membuka laptop untuk segera menuangkannya ke dalam beberapa paragraf tulisan. Pada saat yang lain, saya hanya berpikir ingin menulis saja tanpa rencana atau gambaran tentang apa yang akan saya tulis. Saya hanya ingin menulis—apapun itu. Ini lah saat-saat di mana saya harus ‘head to head’ dengan selembar halaman putih yang kosong. Duel yang tak pernah mudah untuk dimenangkan.

Keadaan semacam itu hampir selalu berhasil membuat saya merasa tak percaya diri dan berpikir saya tak cukup kuat untuk melawannya. Bahkan untuk menatapnya pun saya ragu.

Untungnya, setiap hal itu terjadi, saya selalu ingat sebuah jurus yang diajarkan oleh Dee:

“Mulailah dari apa yang kita tahu, kita rasa dan kita lihat.” Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 4)

AAAAAA

Beberapa hari setelah saya memutuskan untuk menerbitkan buku secara self-publishing, ada salah satu editor dari penerbit nasional yang menghubungi saya. Beliau menyampaikan ketertarikannya terhadap tulisan-tulisan saya dan menawarkan saya untuk menulis buku untuk kemudian diterbitkan lewat penerbitnya. Saya yang waktu itu hanya punya draft buku Ja(t)uh (antologi prosa pertama saya) lantas mengirimkan saja draft itu. Seperti telah saya duga, pihak penerbit merasa tulisan saya terlalu random, baik dari tema maupun bentuk tulisan. Saya pun kembali pada rencana awal: self-publishing.

Hal yang saya cari tahu pertama kali adalah tentang urusan percetakan, terutama tentang kualitas dan biaya cetak. Untuk pembuatan kover, saya punya sahabat di Bandung yang ahli dalam urusan desain. Soal editing, saya punya sahabat juga mahasiswa Sastra Indonesia UI yang tentu saja sudah banyak belajar tentang penyuntingan. Saya kira tantangan terbesar saya waktu itu adalah bagaimana menutup biaya cetak yang tidak sedikit.

Dari hasil beberapa kali pembicaraan saya dengan tim (kami menyebutnya tim azharologia), bulat sudah tekad kami: cetakan pertama kami akan mencetak 500 eksemplar buku Ja(t)uh. Satu-satunya alasan rasional kenekatan kami itu adalah statistik pengunjung blog yang berkisar antara 500-800 views setiap harinya. Tentu saja keputusan itu diambil dengan rasa khawatir yang tidak juga kecil. Biaya cetak 500 eksemplar dengan kualitas buku sekelas penerbit nasional waktu itu hampir mencapai 10,000,000. Bahkan saya tidak pernah punya uang pribadi sebanyak itu.

Bagaimana menutup biaya itu? Kami memutar otak, merumuskan strategi dan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 3)

9

Saya membuat blog, dan atas nama kelabilan yang sedang saya alami ketika itu saya berpindah-pindah alamat hingga akhirnya saya menemukan nama dan penyedia yang sreg di hati: azharologia.wordpress.com (yang sejak peluncuran buku pertama dipersingkat jadi azharologia.com). Saya mengisi blog saya dengan apa saja, tapi diusahakan serutin mungkin. Saya mengamalkan apa yang disampaikan oleh Dee dalam salah satu wawancara tentang kepenulisan: ‘mulailah dari apa yang kita tahu, kita lihat, kita rasa’. Sampai hari ini kalimat itu menjadi semacam mantra ketika saya kehabisen ide untuk menulis.

Bukankah kita selalu punya pengalaman dan perasaan? Setidaknya dari dua hal itulah kita bisa mulai menulis.

Saya juga beberapa kali mengikuti perlombaan menulis, dan dari sekian perlombaan itu hanya satu yang bisa saya menangkan: Lomba Menulis Surat untuk Dewi Lestari yang diadakan oleh Mizan. Hadiahnya? Paket buku Dewi Lestari. Bukan main betapa senangnya saya waktu itu. Dari berbagai perlombaan itu saya belajar bahwa begitu terasa perbedaannya, tulisan yang kita tulis karena kita harus menulisnya dengan tulisan yang kita tulis karena kita memang ingin menulisnya. Bahwa apa Read the rest of this entry »

Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 2)

Dee

Adalah seorang senior yang waktu itu dengan bijaknya berkata, ‘ada dua hal yang membedakan kita hari ini dengan kita bertahun-tahun mendatang: buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui’. Ketika mendengarnya, saya mencerna kalimat itu dengan hati-hati, lantas mengamati sekitar. Rupanya mahasiswa-mahasiswa senior yang ketika itu saya anggap keren, mereka punya dua kebiasaan itu: membaca buku dan bertemu dengan banyak orang.

Saya yang tidak ingin di situ-situ saja ketika itu bertekad untuk mengamalkan perkataan senior tersebut. Tapi rupanya bukan hal yang mudah. Untuk bertemu banyak orang, saya mengikuti organisasi yang ada di kampus, dan secara otomatis—mau tidak mau—saya bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru. Tapi untuk rutin membaca buku? Rupanya lain perkara. Terutama karena yang saya butuhkan waktu itu adalah motivasi internal yang tentu saja seringkali kalah oleh hal yang lebih asyik seperti menonton film atau tidur.

Saya pun bertanya pada seorang senior yang dinding kamarnya penuh dengan buku dan kelihatannya hampir semua sudah tuntas dibaca, tentang bagaimana membiasakan diri membaca buku. Apa nasihatnya? ‘Mulailah membaca hal-hal yang kita suka. Kalau kita sukanya komik, baca komik saja dulu, nanti baru mulai coba-coba buku lain.’ Saya mengangguk dalam hati. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,358 other followers

%d bloggers like this: