Merapikan Kenangan

Kumpulan Surat yang 'Tak Pernah Sampai

Konspirasi Semesta

night_universe_by_seanbean80-d4a9k0r

Kepada kamu,

Kita telah sama-sama tahu: sejak beberapa waktu lalu setelah kuikat kamu untuk terus ada di sisiku, baik aku maupun kamu, tak butuh lagi surat cinta. Aku tak perlu lagi bangun di tengah malam untuk menari dengan kata-kata hanya untuk membuat perasaan ini menjadi tenteram. Aku tak perlu lagi menulis puisi, atau prosa tentang keterpisahan yang membuatku sedikit lega—melampiaskan rindu yang tak terkatakan. Dan kamu, barangkali tak perlu lagi mengira-ngira dan bertanya-tanya dalam pikiranmu sendiri tentang untuk siapakah prosa-prosa itu ditujukan, meski aku yakin sekali kamu sudah tahu itu semua buatmu—adakah lagi yang diragukan dari cinta yang terus tumbuh dalam ketakberdayaannya melawan jarak dan waktu?

Surat cinta tanpa alamat, meski—mungkin saja—akhirnya sampai pada yang dituju, tak pernah seromantis dua pasang tatap mata yang saling bicara. Ketika semua puisi tentang keindahan tak lagi sanggup mewakili hati yang penuh mekar bunga. Ketika semua kenangan manis yang dulu selalu kita ingat-ingat sambil tersenyum menjadi urutan ke sekian, sebab kini kebersamaan kita selalu jadi yang pertama.

Kepada kamu,

Bila ternyata perjumpaan kita dan sampainya kita pada titik ini adalah sebuah konspirasi, aku yakin Tuhan lah pelakunya. Dan langit, hujan, bumi, tumbuh-tumbuhan, beserta seluruh semesta yang tunduk patuh pada-Nya tentu saja ikut menyukseskannya. Barangkali itulah sebabnya, dalam beberapa kesempatan, seringkali hujan tiba-tiba datang mengurung kita ketika kita diam-diam Read the rest of this entry »

Setelah Menikah

IMG_20140320_092754

Setelah menikah, saya kira hidup saya berubah. Ternyata tidak, saya tetap saja seorang Azhar Nurun Ala, anak muda yang suka ‘menyelam’. Bagi saya, samudera kehidupan terlalu luas dan dalam untuk sekadar kita sentuh tepinya, apalagi hanya ditatap dari kejauhan.

Apabila sebelumnya, bangun tidur saya melihat kanan-kiri kemudian mendapati wajah sahabat-sahabat saya pengurus Indonesia Quran Foundation, kini saya melihat wajah lain. Apabila sebelumnya, setiap pagi saya harus ‘hompimpah’ dengan sahabat-sahabat saya tentang siapa yang beli sarapan, kini sarapan saya sudah ada yang siapkan. Itu sebagian kecil yang terasa dan tampak di permukaan lahir, yang lebih besar dan signifikan dari itu, barangkali hanya bisa saya rasakan: langkah yang makin mantap, mata yang menyala, dan ketentraman yang tak terjelaskan.

Read the rest of this entry »

Cinta itu Anomali

wedding_rings_by_andrewishy

Orang bilang aku pujangga

Tapi kau tak pernah terkesan dengan puisi-puisiku

Di muka bumi ini, ada orang-orang yang mencari bukuku ke berbagai toko buku atau ke mana saja tapi tak juga jumpa

Sementara kau, yang kuhadiahi lebih dulu kini lupa menaruhnya di mana

 

Aku tak mengerti.

Barangkali begitulah cinta. Ia terbang jauh melintasi batas kekaguman, terbenam dalam melampaui dasar samudera ketertarikan, dan kadang, membeku sekaligus bisu melebihi tenangnya batu kebanggaan.

Ia, seperti seringkali kubilang, lebih mirip darah: tak kita minta, tak kita rasa, tapi diam-diam menghidupi.

Itu sebabnya sesekali kita perlu terluka. Itu sebabnya sesekali kita perlu kehilangan.

Read the rest of this entry »

Menikah, Membangun Jannah dengan Kasih Sayang

Twitter

“Aku bersegera kepada-Mu, ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” QS Thaha: 84

 Sebuah Pengantar

 “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Jannah, sebuah model kehidupan yang diibaratkan sebagai ‘sebuah taman merindang penuh kepuasan’, bukan cuma kehidupan yang didambakan di akhirat kelak, melainkan juga di dunia. Itu sebabnya Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa “Rabbana atina fidunya hasanah wa fil akhirati hasanah…”, Ya Allah, berikanlah aku kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat…

Apa yang disebut Jannah, khususnya yang kekal di akhirat kelak, tentu (sesuai sabda Rasulullah) adalah satu model kehidupan yang—saking indahnya—kita tak akan pernah sanggup membayangkannya. Namun demikian, kehidupan dunia yang singkat ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bisa mewujudkannya, sehingga amat merugi bila kita menyia-nyiakannya.

surat

“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS Al-Bayyinah: 8)

Jadi kehidupan Jannah, seperti difirmankan Allah dalam Surat Al-Bayyinah ayat 8 tersebut, adalah satu balasan, satu anugerah, satu konsekuensi bagi orang-orang yang takut kepada Allah dalam arti melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kehidupan Jannah akan terwujud ketika kita ridha terhadap Allah (menjalankan hidup sesuai dengan pedoman-Nya yakni Al-Quran yang dicontohkan implementasinya dalam hidup oleh Rasulullah) dan Allah ridha kepada kita. Ini juga sesuai apa yang difirmankan Allah dalam Surat Ad-Dzariyat ayat 56, bahwa tidak diciptakan manusia dan jin kecuali untuk mengabdikan hidup kepada Allah.

Ditegaskan kembali, bahwa untuk mewujudkan satu kondisi ‘kita ridha kepada Allah dan Allah ridha kepada kita’, yang harus kita lakukan adalah mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mengikuti segala perintah-Nya, termasuk perintah yang difirmankan dalam Surat An-Nur ayat 32: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.”

Jadi menikah—di atas segala manfaat dan hikmahnya—adalah satu bentuk keridhaan terhadap perintah Allah sekaligus satu upaya untuk mendapat ridha Allah.

Betapa indah apa yang digambarkan Allah dalam Surat Ath-Thur ayat 21 dan ayat-ayat setelahnya, tidakkah kita begitu ingin mewujudkannya?

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka (di dalam kehidupan Jannah), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur 21)

Bertahan

Terberkatilah mereka manusia-manusia yang merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi. Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik di mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan, untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.

Kita pernah terseok, terjatuh, juga terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia. Tapi hidup adalah perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.

Meski aku tak selalu di sampingmu, bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?

Jadi bertahanlah.

Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka Read the rest of this entry »

Jumpa Pertama

Inilah hidup: betapa banyak peristiwa romantis yang tak pernah benar-benar kita rencanakan. Seperti, barangkali perjumpaan kita, dan sampainya kita pada titik ini.

Di ruang kelas mungil itu, pertama kali aku mendengar namamu, sekaligus mengambil satu pelajaran penting: wajah yang indah selalu bersanding dengan nama yang indah. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan bagiku, sebab pertama kali mengikuti prosesi ini. Dan kamu, dengan wajah yang juga sedikit tegang duduk di depan, seingatku di kursi ketiga sebelah kiri dari arahku. Ya, detik itu aku tengah menanti giliran untuk kau panggil.

Kira-kira itulah ingatan tentang perjumpaan pertama kita yang ada dalam memoriku. Perjumpaan kita barangkali bukan tabrakan Read the rest of this entry »

Hujan atau Cinta

Barangkali memang sudah semestinya kita berterima kasih pada hujan. Rintik-rintik kenangan yang telah menahan kita untuk tetap di sini, bertahan untuk mendengarkan cerita satu sama lain. Kamu bercerita, aku berceritadan entah sudah berapa dusta yang aku cipta.

Hujan menggenang lubang-lubang jalan. Burung-burung berteduh.

Hatiku mengaduh.

Bagaimana rasanya terjatuh, terluka, tapi harus terus berpura-pura?

Bagaimana rasanya, mendengar cerita dari orang yang kita damba tapi bukan tentang kita?

Aku tak pernah benar-benar tahu kata apa yang paling tepat untuk menamai perasaan ini, apakah cinta atau apa. Barangkali karena aku tak terlalu siap merawat kesimpulan yang prematur. Atau barangkali kita memang tak perlu tahu segalanya, seperti kita mengenal sembilu tanpa perlu tahu rupa bambu. Seperti kita yang selalu mengagumi kupu-kupu tanpa pernah peduli bagaimana bentuk ulat.

 Tapi…

 Inikah yang tengah kau lakukan

 Meninggalkanku dalam kebingungan?

Read the rest of this entry »

Jatuh, Jauh, dan Cinta

Foto: Dok. Langit Sastra

Foto: Dok. Langit Sastra

oleh @muhammadakhyar

Mari kita mulai dengan “Ada yang jatuh cinta padamu: aku”. Kalimat itu ada pada puisi (terus terang pada awalnya saya tidak cukup punya keberanian, melakukan kategori pada karya-karya di buku berjudul “ja(t)uh” ini) berjudul “Tertawan”. Puisi ini dimulai dengan baris-baris tentang sesuatu yang tak biasa, seperti: bibir yang beku, nafas yang tertahan, kelopak mata yang tak berkedip. Singkatnya momen jatuh cinta “aku” pada seorang “mu” tidak bisa dikatakan biasa, atau lebih jauh, bisa merobohkan alur hidup yang sudah ditetapkan.

Cinta seperti inilah yang benar-benar ingin dipercayai oleh Azhar. Hanya saja, meminjam Freud, keinginannya ini kemudian pada tulisan-tulisan yang lain dihalangi oleh super-ego-nya. Hasilnya jelas, pada tulisan-tulisan lain, nada cinta yang ingin disampaikan lebih dekat kepada pandangan Fromm, alih-alih cinta menurut Maslow. Fromm jelas-jelas menekankan (sejauh pemahaman saya) cinta tak bisa hanya tentang kegembiraan lepas-bebas tanpa arah, tentang darah yang “berdesir deras”, tentang sesuatu yang membuat angin “berhembus pelan”. Cinta bagi Fromm adalah sesuatu yang harus memiliki akhir, sebuah titik yang jelas di depan sana. Ujung itu diberi nama komitmen. Dalam komitmen berkelindanlah tanggung jawab yang pasti berasal dari suatu sistem hidup, suatu pandangan dunia. Dengan kata lain anda boleh tidak sengaja jatuh cinta, tetapi tidak boleh bermain-main di dalamnya. Bagi Fromm tidak ada frasa “bermain-main dengan cinta”.

Sementara pada Maslow, cinta tak boleh dijerat seperti itu. Cinta yang tertambat bukanlah cinta, tetapi hukum. Pada hukum yang perlu hanyalah kepastian. Urusan kegembiraan ataupun kebahagiaan boleh diletakkan di belakang, bahkan pada titik tertentu rasa, keadilan (yang kita anggap begitu mulia) diletakkan di prioritas berikutnya setelah kepastian hukum. Sementara itu, kegembiraan dan kebahagiaan bagi Maslow adalah variabel yang perlu diperhitungkan. Dalam pandangan ini, cinta mirip seperti laut, beriak-riak, tak berbatas.

 Saya teringat dengan sebuah puisi dari Rivai Apin:

tiada tahan

Read the rest of this entry »

Siap untuk 23/01/14? #TMR230114

image

image

Dengan segala hormat, saya mohon izin dan doa dari teman-teman sekalian insyaallah akan mulai Pre-Order Tuhan Maha Romantis (incl. CD Soundtrack) dan Ja(t)uh edisi spesial di 23 Januari 2014.

Mekanisme pre-order dan lain-lain akan segera diinfokan via @azharologia dan web resmi Tuhan Maha Romantis yaitu tuhanmaharomantis.com.

Saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya bagi teman-teman yang sudah mendukung dan setia menanti lahirnya anak ke-2 saya ini. Salam romantis. :)

“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia”

2013.. 2014.. Tuhan Selalu Romantis!

Tuhan lah yang Maha Romantis
Tuliskan kisah fantastis
Menyatukan gambar kita
Dalam bingkai yang apa adanya

Empat bait di atas merupakan potongan lirik dari lagu ‘Tuhan Maha Romantis’ yang merupakan Original Soundtrack (ost) dari Novel Tuhan Maha Romantis, buku ke-2 saya yang insyaallah akan mulai Pre-Order di Januari 2014 ini. Kebetulan ini potongan lirik favorit saya.

Selamat tahun baru 2014!

Terlepas dari berbagai pendapat tentang perayaan tahun baru, semoga momentum hadirnya 2014 ini bisa jadi satu pelecut bagi kita untuk terus mendekat pada kebaikan. Saya secara pribadi bersyukur tahun 2014 ini diawali dengan hujan dan mendung menggantung, ini membuat saya betah duduk dan akhirnya bisa membuat tulisan ini.

Saya membuat tulisan ini dengan perasaan haru bahagia, pertama karena pada akhirnya—meski belum secara resmi—saya dan teman-teman BEM UI 2013 telah menuntaskan masa bakti kami selama kurang lebih satu tahun, dalam kondisi yang insyaallah—meski masih begitu banyak kekurangan—happy ending. Epilog malam (27/12/13) menjadi penutup cerita yang manis bagi saya pribadi, semoga begitu juga bagi yang lain.

Kedua, karena di malam pergantian tahun 2013 ke 2014 ini, saya baru saja secara resmi mengumumkan buku ke-2 saya berjudul ‘Tuhan Maha Romantis’ yang merupakan sebuah novel. Secara jujur harus diakui bahwa judul ini merupakan ekspresi kekaguman saya atas betapa banyak hal indah yang terjadi di tahun 2013—berbagai rangkaian peristiwa yang membuat saya merasa begitu dimanja takdir. Adakah yang lebih pantas kita kagumi melebihi kekaguman kita pada Yang Maha Mengagumkan? Saya kira tidak. IA-lah yang Maha Segala.

Tentang 2013

Apa yang spesial dari tahun 2013? Tidak ada. Ia punya jumlah hari yang tidak jauh beda dengan tahun-tahun lain. Jumlah hari raya sama, deretan tanggal merahnya pun tidak punya perbedaan yang signifikan dengan tahun-tahun sebelumnya. Memang tidak ada yang spesial dari tahun 2013. Bagi saya, yang spesial adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ini, baik yang berada di bawah kendali maupun di luar. Semua hal itu—seperti saya tulis dalam serial Finding Ourselves—membawa saya pada satu proses penemuan diri. Ketertekanan, perjumpaan dengan banyak orang, serta buku-buku, juga sukses menjadi pemicu untuk memaksa potensi-potensi terbaik untuk keluar dan berkata lantang pada dunia: AKU ADA.

Proses ‘penemuan diri’, ini menjadi salah satu momentum yang amat spesial, terlebih karena ia tidak mungkin terjadi begitu saja. Ia adalah buah dari keputusan-keputusan besar. Ia tak akan pernah lahir dari hidup yang dibiarkan mengalir. Mereka yang tidak pernah berani mengambil keputusan, adalah mereka yang akan ‘di situ-situ’ saja, atau terseret ke mana-mana. Menyedihkan.

Tentang 2014

Apa yang spesial dari tahun 2014? Juga tidak ada. Hanya saja, ada beberapa nilai yang—seperti saya sampaikan lewat azharnurunala.tumbr.com—ingin saya pegang erat-erat.

1. Memperkuat sebab-sebab kesuksesan, sambil terus mendekatkan diri ke Yang Maha Menyukseskan

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,908 other followers

%d bloggers like this: